Marissa Meyer,

Resensi Buku: The Lunar Chronicles #2 Scarlet - Marissa Meyer

Friday, April 14, 2017 Puji P. Rahayu 0 Comments


The Lunar Chronicles #2 Scarlet
Dapatkah kau percaya sepenuhnya terhadap orang yang baru kau kenal?

by Marissa Meyer

4 dari 5 bintang

Sumber gambar: Goodreads
Judul buku: Scarlet
Seri: The Lunar Chronicles
Penulis: Marissa Meyer
Penerjemah: Dewi Sunarni
Penyunting: Selsa Chintya
Proofreader: Titish A.K.
Design cover: @.hanheebin
Penerbit: Penerbit Spring
Tahun terbit: Februari 2016
Tebal buku: 444 halaman
ISBN: 978-602-71505-6-0
Harga: Rp81.500,- di Toko Buku Gunung Agung, Margo City, Depok.


Nenek Scarlet Benoit menghilang. Bahkan kepolisian berhenti mencari sang nenek dan menganggap Michelle Benoit melarikan diri atau bunuh diri. 
Marah dengan perlakuan kepolisian, Scarlet membulatkan tekad untuk mencari neneknya bersama dengan seorang pemuda petarung jalanan bernama Wolf, yang kelihatannya menyimpan informasi tentang menghilangnya sang nenek. 
Apakah benar Wolf bisa dipercaya? Rahasia apa yang disimpan neneknya sampai sang nenek harus menghilang?
Di belahan bumi yang lain, status Cinder berubah dari mekanik ternama menjadi buronan yang paling diinginkan diseluruh penjuru Persemakmuran Timur. Dapatkah Cinder sekali lagi menyelamatkan Pangeran Kai dan bumi dari Levana?


Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Pernah membaca kisah Si Gadis Berkerudung Merah? Iya, gadis yang menjelahi hutan sendirian untuk bertemu neneknya. Yang pada akhirnya bertemu dengan serigala di tengah jalan. Yap, Scarlet, buku kedua dari seri The Lunar Chronicles ini merupakan sebuah retelling dari dongeng klasik tersebut. Masih ada si gadis berkerudung merah, nenek si gadis, hingga sang serigala. Akan tetapi, dalam hal ini konteksnya jauh berbeda.

Entahlah. Aku lupa sudah menyebutkannya atau belum. Yang pasti, awalnya aku sama sekali tidak memiliki pemikiran akan menikmati seri ini. Maksudku, aku bukanlah pembaca yang mudah tertarik dengan hype sebuah buku. Bisa dilihat kan kalau aku membaca buku ini di tahun 2017 bukannya di tahun 2016. Hal ini cukup menandakan bahwa aku tidak terlalu mengikuti seri ini.

Well, meskipun demikian, menurutku membaca seri The Lunar Chronicles di tahun 2017 bukanlah suatu hal yang salah. Mengapa? Karena, nyatanya aku malah jadi menikmati cerita ini sedemikian rupa. Yep. Aku malah ketagihan dengan kisah Cinder-Kai-Scarlet-Wolf ini. Ups, curhatnya kepanjangan. 

Jadi, seperti yang aku bilang di atas, Scarlet merupakan buku kedua dari seri The Lunar Chronicles. Merupakan sebuah bentuk retelling dari cerita Si Gadis Berkerudung Merah. Hoho. Alkisah, Scarlet Benoit yang tinggal di Rieux, Perancis, bersedih hati karena neneknya, Michelle Benoit menghilang. Scarlet begitu yakin neneknya diculik karena chip identitas milik neneknya dikeluarkan paksa dan ditinggalkan di kamarnya. Bagaimanapun caranya, Scarlet pun berusaha untuk mencari neneknya ke Paris. Dibantu oleh seorang petarung jalanan bernama Wolf, Scarlet pun memahami bahwa penculikan atas neneknya bukan penculikan biasa. Ada hubungan antara orang-orang Bumi dan juga Bulan. Kemudian, meskipun Wolf selalu menemani Scarlet kemana saja, Scarlet merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Wolf. Sesuatu yang nyatanya bisa membuat siapapun tidak akan pernah lagi mempercayai Wolf.

Di lain sisi, Cinder bersama Thorne berusaha untuk bisa kabur dari penjara di New Beijing. Berbekal tangan baru Cinder yang diberi oleh Dokter Erland sebelum kepergiannya ke Afrika. Setelah melalui kejar-kejaran seru dan hampir tertangkap kembali, Cinder dan Thorne berhasil kabur menggunakan pesawat curian milik Thorne, pesawat perang asal Amerika Serikat, Rampion. Untuk sementara, Cinder dan Thorne aman dalam pesawat. Akan tetapi, beban Cinder yang berat--karena Kai akhirnya menerima aliansi pernikahan dari Levana--membuat Cinder mau tak mau harus berusaha sedemikian rupa untuk bisa mengatur strategi untuk dapat mengalahkan Levana. Bagaimanapun, Cinder lah pewaris sah takhta di Bulan karena dia adalah Selene, putri Bulan yang hilang. 

Sumber gambar: google, disunting oleh saya

***

Bagiku, membaca The Lunar Chronicles ini adalah candu. Mengapa aku mengatakan demikian? Karena pada akhirnya aku malah lebih tertarik membacanya ketimbang belajar UTS. Sungguh kebiasaan yang kebablasan. Hoho. Tapi aku nggak menyesal sih saat selesai membacanya. Menurutku, Marissa Meyer telah berhasil dengan baik membuat retelling yang tidak biasa. Ia benar-benar berhasil menciptakan dunia yang begitu kompleks. Adanya orang-orang Bumi dan Bulan membuatku jadi penasaran, bagaimana bisa semua hal itu mungkin terjadi.

Dari segi cerita, Scarlet sendiri memang lebih menantang daripada Cinder. Aroma action dari buku ini lebih kental terasa. Apalagi, ternyata Wolf memang bukan sekadar petarung jalanan. Dia adalah seorang Alpha dalam kawanannya. Tidak heran bila aura Wolf begitu mengintimidasi. Sedangkan, untuk Cinder sendiri, aku suka caranya bekerja sama dengan Thorne. At least, they get along well.

Mungkin, saat membaca Scarlet, kita akan dibuat bingung. Memang, apa hubungan antara Cinder dan Scarlet? Di awal-awal mungkin tidak terlalu terlihat. Akan tetapi, setelah masuk halaman 130-an, jawaban dari benang merah antara Cinder dan Scarlet akan terlihat. Yaa, aku tidak menyangka saja pada akhirnya seri ini begitu complicated. Meyer berhasil mencampur-adukkan dongeng serta kisah yang ia buat sendiri. Tentunya, kisah Cinder ini membuatku terpacu untuk membaca buku lanjutannya secepatnya--which is, sudah kulakukan. Apalagi, selain action yang terlihat, terdapat romansa yang khas dalams setiap kisah. Seperti Cinder-Kai dan Scarlet-Wolf. Untuk saat ini, yang paling sweet adalah Scarlet-Wolf. Akan tetapi, Pangeran Kai tetap menjadi idolaku. Hehe.

Pada intinya, kalau kalian mencari bacaan ringan tapi juga menantang, maka seri The Lunar Chronicles bisa menjadi pilihan.

Sincerely,

Puji P. Rahayu

You Might Also Like

0 comments: