Marissa Meyer,

Resensi Buku: The Lunar Chronicles #1 Cinder - Marissa Meyer

Sunday, April 02, 2017 Puji P. Rahayu 0 Comments

The Lunar Chronicles #1 Cinder
Mungkin, banyak rahasia yang tersimpan dalam dirinya. Akan tetapi, dia  tidak pernah membohongimu.

by Marissa Meyer

4 dari 5 bintang

Sumber: Goodreads
Judul: Cinder
Seri: The Lunar Chronicles #1
Penulis: Marissa Meyer
Penerjemah: Yudith Listiandri
Penyunting: Selsa Chintya
Proofreader: Titish A.K.
Penerbit: Penerbit Spring
Tahun terbit: Januari 2016, cetakan pertama
Tebal buku: 384 halaman
ISBN: 978-602-71505-4-6
Buntelan dari Afifah Tamher dan Mandewi


Wabah baru tiba-tiba muncul dan mengecam populasi penduduk Bumi yang dipenuhi oleh manusia, cyborg, dan android. Sementara itu, di luar angkasa, orang-orang Bulan mengamati mereka, menunggu waktu yang tepat untuk menyerang. 

Cinder—seorang cyborg—adalah mekanik ternama di New Beijing. Gadis itu memiliki masa lalu yang misterius, diangkat anak dan tinggal bersama ibu dan dua orang saudari tirinya. Suatu saat, dia bertemu dengan Pangeran Kai yang tampan. Dia tidak mengira bahwa pertemuannya dengan sang Pangeran akan membawanya terjebak dalam perseteruan antara Bumi dan Bulan. Dapatkah Cinder menyelamatkan sang Pangeran dan Bumi?


Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Sebenarnya, sudah sejak lama saya ingin membaca seri Lunar Chronicles ini. Selain karena unsur retelling yang disuguhkan, saya tertarik dengan kisah perseteruan antara orang-orang bumi dan bulan. Kalau boleh jujur, seri ini membuat saya tidak dapat berhenti membacanya. Bahkan, saya rela untuk tidak tidur untuk menghabiskan keseluruhan seri.

Linh Cinder adalah cyborg yang terkenal sebagai mekanik ternama di New Beijing. Bersama dengan Iko, sebuah android, Cinder membuka sebuah kios di pasar. Jati dirinya yang memang bukan manusia sepenuhnya, terkadang membuat banyak orang yang memandang jijik pada Cinder. Begitu pula dengan ibu tirinya, Linh Andri, dan putrinya, Pearl. Untungnya, adik Pearl, Peony, masih mau untuk berteman dengan Cinder. Suatu ketika, pangeran mahkota Persemakmuran Timur, Kai, mengunjungi kios Cinder untuk memperbaik android miliknya, Nainsi. Dengan kemampuan cyborg-nya, tidak heran kalau Cinder bisa mengenali Kai dalam samaran. Sejak saat itu, entah mengapa, Kai dan Cinder menjadi sering bertemu, Mulai dari di kios Cinder, laboratorium kerajaan, hingga Kai yang memang mengundang Cinder untuk bertemu. Sampai terakhir, Kai bermaksud mengundang Cinder dalam Festival Pesta Dansa kerajaan.

Di lain sisi, wabah letumosis sedang menyerang dunia. Wabah ini sangatlah berbahaya dan belum ditemukan obatnya. Kondisi Persemakmuran Timur semakin merosot karena Kaisar Rikan, akhirnya meninggal dunia karena penyakit ini. Otomatis, Kai harus siap menggantikan ayahnya dan menghadapi Ratu Levana--Ratu Bulan yang begitu licik dan tidak memiliki perasaan. Levana berjanji untuk memberikan obat penawar letumosis apabila Kai mau melakukan aliansi perdamaian yang ditawarkan. Aliansi apa yang ditawarkan oleh Levana? Bagaimana Kai menghadapinya? Lalu, apa hubungan semua ini dengan kehidupan Cinder? Buku pertama dari seri The Lunar Chronicles ini akan menjawabnya.

***

The Lunar Chronicles merupakan sebuah seri fiksi-ilmiah yang ditulis oleh Marissa Meyer. Mengambil latar dunia modern, yakni pada Third Era, zaman setelah berakhirnya Peran Dunia IV. Di sini, Meyer mencoba untuk menggambarkan bentuk modern dari dunia. Mulai dari tata pemerintahan dunia yang lebih sederhana, hanya ada enam negara saja, hingga teknologi-teknologi yang berkembang, seperti adanya hover dan portscreen. Meyer berhasil menggambarkan semua itu dengan detail. Kemudian, hal yang paling saya sukai dari novel ini adalah, retelling dongeng klasik yang tidak biasa. Jujur, saya begitu menyukainya.

Awalnya, saya tidak sebegitu berkekspektasi dengan novel ini. Saya cuma mengharapkan suatu bacaan ringan. Nyatanya, semua itu salah. Saya sangat ketagihan dengan novel ini dan berdoa semoga novel ini tidak cepat tamat, *which is, itu sangat tidak mungkin. Meyer berhasil memorak-porandakan saya dengan cerita yang ia sajikan. Pada akhirnya, saya penasaran bagaimana cara Kai menghadapi Levana, hingga identitas sebenarnya dari Cinder. Saya sampai geleng-geleng kepala saat mennyadari bahwa imajinasi dari Marissa Meyer begitu apik.

Mungkin, ada beberapa hal yang masih belum saya mengerti. Entah karena saya yang terlalu excited sampai tidak memperhatikan detail, saya merasa ada yang salah. Sebenarnya, kekuatan manipulatif yang dimiliki oleh orang-orang Bulan itu berasal dari mana? Bukankah awalnya mereka juga orang Bumi? Saya masih belum tahu jawabannya sampai sekarang.

Pokoknya, bagi siapapun yang menginginkan suatu karya retelling yang tidak biasa, The Lunar Chronicles adalah pilihan yang cerdas. Saya pastikan kalian tidak akan kecewa.

4 bintang untuk Pangeran Kai--sepertinya dia akan menjadi favorit saya sampai akhir seri.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

You Might Also Like

0 comments: