Alberthiene Endah,

Resensi Film: Athirah (2016)

Sunday, March 26, 2017 Puji P. Rahayu 0 Comments


Athirah
Menceritakan sebuah ketegaran yang dibangun untuk menjalani kehidupan sebagai seorang perempuan dan juga ibu.

Sutradara: Riri Riza
Produser: Mira Lesmana
Penulis Naskah: Salman Aristo, Riri Riza
Perusahaan Produksi: Miles Film
Tanggal Rilis: 29 September 2016
Pemain: Cut Mini, Christoffer Nelwan, Tika Bravani, Jajang C. Noer, Andreuw Parinussa, Arman Dewarti
Diadaptasi dari novel berjudul sama, Athirah, karya Alberthiene Endah
Ditonton di Kineforum, Dewas Kesenian Jakarta
Harga tiket: Rp20.000,-

Kehidupan Athirah goyah ketika suaminya mengawini perempuan lain. Dalam lingkup budaya yang memungkinkan ini terjadi dan tanpa ruang bagi perempuan untuk bisa menolak, Athirah bergulat melawan perasaannya demi mempertahankan keutuhan keluarganya. Sementara itu, anak laki laki tertuanya, Ucu, tidak tahu pada siapa ia harus berpihak. Ibunya adalah orang yang dicintainya, penuh kesabaran dan kebaikan hati, sementara Bapaknya tetap menjadi sosok yang ia kagumi

***

Baiklah, sebelum saya menjelaskan bagaimana pendapat saya mengenai Athirah, saya akan menceritakan terlebih dahulu awal mula saya bisa menonton film ini. Pada dasarnya, saya tidak memiliki bayangan apa-apa dalam hal menonton biografi ibunda Jusuf Kalla ini. Bermula dari satu ajakan singkat dari teman saya--Nurul--untuk jalan-jalan di malam minggu.

"Puj, ayo ke Bogor!"
Awalnya, saya bingung. Mau kemana kalau ke Bogor? Punya tempat tujuan pun tidak. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya kami memutuskan untuk ke Jakarta. Bersama dengan adik kelas Nurul--Adit, kami pun mulai menaiki kereta tanpa arah yang jelas. Pilihan kami untuk menghibur diri ada dua, ke Kineforum atau Teater Salihara. Setelah memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada, akhirnya kami memilih ke Kineforum.

Apa itu Kineforum?

Kineforum merupakan bioskop alternatif yang terletak di kawasan Taman Ismail Marzuki. Selain sebagai ajang menonton, terkadang juga terdapat diskusi lebih lanjut di sana. Setahu saya, terkadang Kineforum menghadirkan orang-orang tertentu dalam diskusi yang diadakan.

KINEFORUM adalah bioskop pertama di Jakarta yang menawarkan ragam program film sekaligus diskusi tentang film. Film-film yang diputar adalah film-film yang bisa menjadi alternatif tontonan bagi publik. Mulai dari film klasik maupun kontemporer, film panjang maupun pendek, film luar maupun dalam negeri, dan juga film-film dari non arus utama. Ruang ini diadakan sebagai tanggapan terhadap ketiadaan bioskop non komersial di Jakarta dan kebutuhan pengadaan suatu ruang bagi pertukaran antar budaya melalui karya audio-visual.--deskripsi dari situs resmi Kineforum.
Dengan demikian, Kineforum merupakan bioskop yang tidak biasa. Jujur saja, ini adalah pertama kalinya saya menonton di Kineforum. Tentunya, saya tidak kecewa dengan pelayanan di sana. Oh, ya. Kalau ingin menonton, tidak perlu reservasi. Langsung saja datang ke Kineforum--letaknya di belakang XXI TIM. Untuk pembelian tiket bisa dilakukan satu jam sebelum film diputar. Pst, segera ya kalau mau dapat tiketnya. Karena hanya ada 35 tempat duduk yang tersedia.

Tentang Athirah

Pada dasarnya, saya belum membaca novel karya Mbak AE ini. Oke, saya tahu kalau beliau ini 'jagonya' membuat biografi. Sebagai contoh adalah Mimpi Sejuta Dolar yang mengisahkan cerita hidup Merry Riana. Memang ada sih keinginan untuk membacanya. Tapi, nanti.

Berhubung saya ini menonton filmnya saja, jadi mungkin bagian visualnya yang akan banyak saya ceritakan. Film dibuka dengan adegan perpindahan Athirah (Cut Mini) bersama suaminya ke Makasar. Suaminya, Puang Aji (Arman Dewarti), merupakan seorang saudagar. Ia melakukan jual beli ke berbagai pembeli di dalam maupun luar kota. Hidup keduanya terlihat baik-baik saja. Mereka telah memiliki tiga anak, salah satunya adalah Ucu (Christoffer Nelwan)--anak laki-laki tertua di keluarga tersebut.

Suatu ketika, Athirah merasa kalau ada yang berubah dari suaminya. Terbukti dari jarangnya lelaki itu di rumah serta perubahan-perubahan minor yang disadari oleh Athirah. Beberapa rumor mengembus dan terdengar telinga Athirah, Puang Aji akan menikah lagi. Dalam kebudayaan Bugis, hal ini bukanlah hal yang tidak biasa, Seseorang memiliki lebih dari satu istri tidak menjadi masalah. Akan tetapi, sebagai seorang perempuan, tentu saja Athirah merasa tersakiti. Ia terkadang pilu saat menyadari suaminya jarang pulang ke rumah dan memilih untuk tinggal di rumah istri keduanya. 

Untuk mengatasi kesedihannya, Athirah, dibantu oleh ibunya, Mak Kerah (Jajang C. Noer), akhirnya berusaha berbisnis kain tenun. Sedikit demi sedikit, Athirah mengumpulkan uang untuk berjaga-jaga. Satu-satunya yang mengetahui usaha Athirah ini adalah Ucu. Sebagai anak pertama, Ucu memang dekat dengan ibunya. Tidak heran bila Athirah mempercayai Ucu akan rahasianya.

Krisis tahun 1960-an membuat perekonomian Indonesia stagnan. Hal ini pun juga memengaruhi kehidupan Athirah dan keluarganya. Perusahaan yang mulai bangkrut, pedagang yang gulung tikar, hingga pengrajin yang berhenti bekerja. Lalu, sampai di situ sajakah perjuangan Athirah dalam menghadapi hidup? 

Sumber gambar: Kapanlagi
***
Menurut saya, cerita yang disajikan dalam thirah begitu sederhana. Cerita mengenai perjuangan seorang perempuan dalam menghadapi hidup dimadu. Unsur budaya dalam cerita ini begitu kuat. Terlihat dari penggunaan bahasa Makasar untuk keseluruhan film, lagu-lagu yang dinyanyikan, dan juga musik-musik yang diperdengarkan. Bagi saya, lagu dan musiknya bagus. Saya jadi penasaran dengan lagunya. 

Secara visual, pengambilan gambarnya bagus. Saya tidak kecewa saat harus menontonnya dari bangku paling depan. Banyak detail yang dicoba untuk diperlihatkan oleh Riri Riza. Sayangnya, terkadang detail-detail tersebut membuat cerita dari film ini sendiri menjadi terpotong. Seolah-olah, adegan yang disajikan tidak berhubungan satu sama lain. Sayang sekali. 

Untuk pendalaman karakter sendiri, saya cukup trenyuh saat melihat akting dari Cut Mini. Dia benar-benar bisa menjiwai Athirah. Jujur saja, saya suka dengan penampilan Cut Mini. Kemudian, akting dari Jajang C. Noer memang tidak perlu diragukan lagi. Dengan pengalaman di dunia film yang cukup luar biasa, membuat akting Jajang begitu memukau dan sangat menyenangkan untuk dilihat. Terakhir, ada akting Christoffer Nelwan yang membuat saya sakit perut karena tertawa.

Terlepas dari kekurangannya di sana-sini, menurut saya film ini masihlah layak untuk ditonton. Dan, pada akhirnya membuat saya penasaran dengan novelnya. Mungkin, lain kali saya akn membaca novelnya dan membandingkannya dengan filmnya.

4 bintang untuk karakter Ucu yang lucu.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

0 comments:

Arswendo Atmowiloto,

Book Review: Cemara's Family#1 - Arswendo Atmowiloto

Saturday, March 25, 2017 Puji P. Rahayu 0 Comments

Cemara's Family#1
Somehow, tears doesn't mean sad. It could be grateful.


by Arswendo Atmowiloto

5 of 5 stars

Source: goodreads
Author: Arswendo Atmowiloto
Translator: Dharmawati
Number of pages: 290 pages
Publisher: Gramedia Pustaka Utama
Year of Publish: November, 16th, 2015
ISBN: 97860220320113
Read via iJakarta

In the fast-paced world where conscience is often swallowed by the daily struggles to survive, one little family maintains their true principle that honesty is the best policy. Though stricken with poverty, Cemara's family continues to live with gratefulness, kindness, and resilience. Cemara, the main character of this heartwarming novel, is a bright and lovely little girl who's still in kindergarten. She lives with Abah, the breadwinner of the family, who works as a pedicab driver and a handyman whenever he's needed. To support him, Emak, the mother, makes sweet grain snacks and asks her daughters to sell them around their village. Euis, the fi rstborn daughter, is on the 6th grade and has experienced the family's wealthy state in the past, before poverty strikes them. While the youngest daughter is Agil, a sweet girl who puts a smile in everyone's face. Cemara's Family is an evocative novel about the values of family as a pillar of strength. Cemara's sweet little stories show us that tears can actually be a symbol of happiness and that there is always hope even in the time of hardship.
More Informations:

Well, I think this book is a contradictory from Crazy Rich Asians. If Crazy Rich Asians discussed about the rich family in Singapore, with their luxurious facilities, this book, Cemara's Family is about an ordinary family who really struggle to get money.

Actually, I red this novel because I really miss the serial TV. I tried to search this serial on net, but nothing could be found. So sad. I think that the serial TV is worth to watch. Then, when I searched on iJakarta, I accidentally found this book. Without thinking twice, I borrow this book. Ehm, maybe, if I could red the original one it could be great, but I just could find the English version. I didn't really mind about that because this book is amazing and make me touched. 

Like what has been told from the description, this book is about Cemara's Family, an ordinary and poor family that live in Indihiang, Tasikmalaya. This family consist of Abah, Ema, Euis, Ara, and Agil. They lived in a small house in the middle of village. Everyday, Abah, Ema, and Euis tried so hard to earn money. Abah with his ability became pedicab driver. He is the most repected one in family. No one could disobey his words. Ema is someone who took care all of domestic things, starts from cooking, washing, and make opak--a traditional food that made from floor--for sale. Even though she is the quite one, actually she never complain about her condition. Euis, the elder child, besides going to school, she sell opak too in bus station. She did that to help her family. Ara, the middle child. She just enter the kindergarten. With her ability, she could enter singing competition and became a quiet smart girl, The last is Agil, the youngest children. She always impersonate Ara and make the other laugh with her attitude.

For this family, money is something that hard to earn. Not every things could they get. They have to save some money to get something that they want, but in the end, that saving money used for another else needs. I don't know why, but in the middle of reading this book, I felt pity of their condition. But, I really appreciate their belief that honesty is everything. They do everything with sincere and honesty. No wonder if God always beside them. I know that there are so many bad things happened in their life, starts from the lost money, the lost things, till someone accused them for being liar or other. Instead of angry, Abah always told his family that they have to be patient and still honest for everything.

Edited by me
My favorite character on this book is Abah. He is really sincere and honest. He would try to make his family happy, event though there is many money that they could afford in one day. But, he still remind his family to always grateful to the God. Many moral values that I could get from this novel and I really satisfied by Atmowilotos's writing.

If you want to know about the meaning of life and honesty, you should read this book.

5 stars for this family.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

0 comments:

Contemporary Romance,

Resensi Buku: Crazy Rich Asians (Kaya Tujuh Turunan) - Kevin Kwan

Thursday, March 23, 2017 Puji P. Rahayu 0 Comments

Crazy Rich Asians
Terkadang, hidup yang terlalu berlimpah belum tentu berujung bahagia.


Karya Kevin Kwan

3.5 dari 5 bintang

Sumber: Goodreads
Penulis: Kevin Kwan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Alih bahasa: Cindy Kristanto
Editor: Meggy Soedjatmiko
Sampul: Martin Dina
Tebal buku: 480 halaman
Tahun terbit: 2016
ISBN: 978-602-03-1443-3
Buntelan dari Bintang.
Ketika Rachel Chu, dosen ekonomi keturunan Cina, setuju untuk pergi ke Singapura bersama kekasihnya, Nick, ia membayangkan rumah sederhana, jalan-jalan keliling pulau, dan menghabiskan waktu bersama pria yang mungkin akan menikah dengannya itu. Ia tidak tahu bahwa rumah keluarga Nick bagai istana, bahwa ia akan lebih sering naik pesawat pribadi daripada mobil, dan dengan pria incaran se-Asia dalam pelukannya, Rachel seperti dimusuhi semua wanita.
Di dunia yang kemewahannya tak pernah terbayangkan oleh Rachel itu, ia bertemu Astrid, si It Girl Singapura; Eddie, yang keluarganya jadi penghuni tetap majalah-majalah sosialita Hong Kong; dan Eleanor, ibu Nick, yang punya pendapat sangat kuat tentang siapa yang boleh—dan tidak boleh—dinikahi putranya.
Dengan latar berbagai tempat paling eksklusif di Timur Jauh—dari penthouse-penthouse mewah Shanghai hingga pulau-pulau pribadi di Laut Cina Selatan—Crazy Rich Asians bercerita tentang kalangan jet set Asia, dengan sempurna menggambarkan friksi antara golongan Orang Kaya Lama dan Orang Kaya Baru, serta antara Cina Perantauan dan Cina Daratan.
Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Pergi menggunakan jet pribadi secara instan? Baju-baju rancangan desainer ternama? Atau rumah besar bak istana yang dijaga oleh berbagai macam penjaga? Dalam pikiran terliarnya, Rachel Chu tak pernah menyangka kalau pacarnya, Nicholas Young, memiliki keluarga kaya raya dengan 1001 tradisi. Setiap anggota keluar Nick, terlihat sangat ingin berlomba-lomba menjadi yang terbaik. Mulai dari membicarakan gaun apa yang dipakai oleh siapa, perhiasan apa yng dibuat oleh siapa, hingga siapa yang memiliki garis keturunan yang bagaimana. Percakapan-percakapan ini terus menghinggapi telinga Rachel saat ia berkunjung ke rumah Nick di Singapura. Lama tinggal di Amerika, membuat Rachel tidak menyangka ada suatu rahasia besar yang disimpan oleh Nick. Nick sendiri hampir tidak menyadari kalau rencananya untuk mengajak Rachel berlibur, malah membuat malapetaka bagi hubungan keduanya.
"Tidak melakukan apa-apa kadang bisa menjadi bentuk tindakan paling efektif. Kalau kau tidak melakukan apa-apa, kau akan mengirim pesan yang jelas: bahwa kau lebih kuat dari yang mereka pikir. Belum lagi jauh lebih berkelas. Coba pikirkan." Sophie, hlm. 252.
Bagaimana caraku mendefinisikan novel gila-gilaan ini? Ahh, aku tak tahu. First thing first, yang harus kupercayai adalah, orang-orang kaya sialan ini pasti ada di kehidupan nyata. Cara mereka menghabiskan uang dengan berbelanja di suatu butik ternama, makan-makan di restoran mewah tanpa cela, hingga liburan di pulau pribadi dengan harga selangit. Setidaknya, novel ini ingin mengambil latar belakang orang-orang jetset di Asia.

Well, sejujurnya, novel ini menarik. Meskipun terlihat sangat berlebihan, nyatanya kalau dipikir-pikir pun, kekayaan orang-orang Cina di Singapura mungkin saja benar-benar ada. Toh, hal itu bukanlah suatu hal yang salah. Memang ada orang-orang yang punya kesempatan demikian. Keluarga Young, Leong, Cheng, dan lainnya, menjadi keluarga-keluarga paling berpengaruh dalam roda perekonomian Singapura. Hampir semua orang memandang hormat pada mereka. Rasanya seperti sureal saat membayangkan keluarga-keluarga seperti ini benar-benar ada.
"Tidak ada yang abadi, dan ketika ledakan ini berakhir, anak-anak muda ini tidak akan tahu apa yang menjatuhkan mereka." Wye Mun, hlm. 275.
Yang membuatku tertarik untuk membaca novel ini adalah, karena secara tidak langsung, Kevin Kwan mengambil topik mengenai bagaimana etnis Cina menjalani kehidupannya. Dimulai dari sentimen bahwa orang Cina Daratan dianggap tidak sebaik Cina Perantauan, hingga ada perbedaan kasta antara Orang Kaya Lama dan Orang Kaya Baru. Berbagai macam tradisi pun dicoba oleh Kwan untuk dibenturkan. Menurutku, setidaknya novel ini memberikan gambaran lain akan orang-orang Cina.

Secara cerita, harus kuakui kalau Kwan tidaklah berfokus pada kehidupan Rachel dan Nick. Ia memasukkan juga cerita mengenai Eleanor--ibu Nick--yang segan setengah mati menerima Rachel sebagai calon menantu, pernikahan Colin Khoo dan Araminta Lee yang dinobatkan menjadi pernikahan paling mewah se-Asia, kehidupan rumah tangga Astrid dan Michael yang hampir di ujung tanduk, hingga kehidupan Su Yi, nenek Nick yang begitu berkelas. Jadi, mungkin agak membingungkan saat membaca novel ini karena begitu banyak tokoh yang muncul. Jalinan ceritanya pun terkesan acak dan membuat bingung.

Foto ala-ala oleh Puji.
Dari segi sampul, aku suka banget. Sederhana tapi koleksi-able. Yap yap. Crazy Rich Asians merupakan buku pertama dari seri Crazy Rich. Jadi, aku bersemangat juga untuk mengumpulkan seri ini. Semoga saja, bisa. Hehe. Kalau untuk tokoh favorit, pilihanku jatuh pada Astrid dan juga Oliver. Mereka ini menurutku patut mendapat tempat tersendiri. Bahkan, sepertinya, Kwan bisa membuatkan mereka suatu garis nasib sendiri. Terlepas dari huru-hara Rachel dan Nick.

Kalau menurutku, novel-novel seperti Crazy Rich Asians ini keren dengan caranya sendiri. Meskipun mungkin banyak yang akan memrotes betapa tidak masuk akalnya novel ini. Tapi, bagiku, novel ini sudah cukup menarik untuk dibaca. Bahkan, buku keduanya membuatku penasaran setengah mati.

Meskipun demikian, harus kuakui aku sedikit kecewa dengan tipografi yang terdapat di novel ini. Padahal, terjemahannya sudah bagu menurutku. Sayang sekali masih tercetak beberapa tipografi yang aku temukan. Semoga kalau novel ini cetak ulang, dapat diperbaiki kembali.

Baiklah, sekian cuap-cuapku. Ku harap, aku bisa segera membaca buku yang kedua. Hoho.

3.5 bintang untuk ketabahan Astrid dan gilanya orang-orang ini.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

Catatan tipografi:
"...dan aku menjadi sekretaris," protesAstrid (hlm. 15) --> "...dan aku menjadi sekretaris," protes Astrid 
"Dia tampan sekali sekarang!" seruMrs. Lim. (hlm. 25) --> "Dia tampan sekali sekarang!" seru Mrs. Lim.
"Kau lihat kalung yg dikenakannya?" (hlm. 48) --> "Kau lihat kalung yang dikenakannya?"
Dia juga bisa menirukan secara bilian lagu 'My Way' dari Sinatra. (hlm. 54.) --> Dia juga bisa menirukan secara brilian lagu 'My Way' dari Sinatra.
yang mengucapkan selamat tinggal pada Astrud sambal menangis di Bandara Changi, (hlm. 76) --> yang mengucapkan selamat tinggal pada Astrud sambil menangis di Bandara Changi,
dan sebelum dia menyadarainya, mereka mengobrol selayaknya teman lama. (hlm. 93) --> dan sebelum dia menyadarinya, mereka mengobrol selayaknya teman lama.
Sejak malam dia menemukan pesam itu, (hlm. 99) --> Sejak malam dia menemukan pesan itu,
"Coba lihat! Kau cantik sekali!" seruRachel. (hlm. 126) --> "Coba lihat! Kau cantik sekali!" seru Rachel. 
"Hei, tidak terlalu lama," geramWye Mun Riang. (hlm. 133) --> "Hei, tidak terlalu lama," geram Wye Mun Riang
Dia piker dia siapa? (hlm. 195) --> Dia pikir dia siapa?
"Mom, jangan menganalisa terlalu berlebihan." (hlm. 283) --> "Mom, jangan menganalisis terlalu berlebihan."
Dan dia menduga kelompok ini akan menganalisa jawaban apa pun yang diberikannya. (hlm. 294) --> Dan dia menduga kelompok ini akan menganalisis jawaban apa pun yang diberikannya.
melambaikan tangannya ke sekeliling hamar mewah tempat mereka berdiri. (hlm. 384) --> melambaikan tangannya ke sekeliling kamar mewah tempat mereka berdiri.
" Kau kedengaran ada di pihaknya," (hlm. 446) --> "Kau kedengaran ada di pihaknya,"

0 comments:

Non Review,

Wishful Wednesday #10 Penasaran dengan Sang Kekasih

Wednesday, March 22, 2017 Puji P. Rahayu 2 Comments

Wishful Wednesday merupakan meme mingguan yang diselenggarakan oleh Kak Astrid di Perpus Kecil. Dalam meme ini, kita dibebaskan untuk membuat wish buku apa yang kita ingin punya. Boleh buku yang memang akan kita beli atau buku yang menjadi wishlist kita yang sulit didapat.


Halo!
Ini adalah another Wishful Wednesday. Hem, kalau aku ditanya mau buku apa mingggu ini, aku juga lagi bingung. Hehe. Tapi, berhubung aku sedang membaca Crazy Rich Asians-nya Kevin Kwan, maka aku tertarik untuk memiliki buku keduanya. Yap, apalagi kalau bukan Crazy Rich Girlfriend. Hoho.


Sumber gambar: Goodreads

Sekarang malam pernikahan Rachel Chu. Ia memakai cincin bermata berlian Asscher-cut, gaun pengantin yang sangat ia sukai, dan memiliki tunangan yang rela kehilangan semua harta warisan demi menikahinya. Namun, gadis itu sedih. Ayah kandungnya, yang tidak pernah ia kenal, takkan mengantarnya menuju altar. Lalu suatu kejadian mendadak membuat identitas pria tersebut terungkap. Dan Rachel pun terseret ke dalam dunia gemerlap Shanghai, yang berisi kemewahan tak terbayangkan dan orang-orang yang bukan sekadar kaya raya--mereka kaya tujuh turunan. 

"Sangat menghibur." -The Washington Post

Simply, karena aku penasaran bagaimana hubungan Nick dan Rachel berlanjut. Apalagi, kenyataan bahwa Rachel terseret kehidupan jetset di Shanghai. Otomatis, membuatku tertarik untuk tahu bagaimana kehidupan kalangan jetset ini. Yaa, semoga saja aku bisa mendapatkannya di suatu kesempatan. Hehe.

Sincerely,
Puji P. Rahayu



Bagi yang ingin ikut berandai-andai dalam Wishful Wednesday, berikut ketentuannya :
  1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) atau segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan bookish kalian, yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku/benda itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post Wishful Wednesday di blog Books To Share). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

2 comments:

CoMix Wave Films,

Resensi Film: Kimi no Na wa (2016)

Wednesday, March 22, 2017 Puji P. Rahayu 2 Comments


Kimi no Na wa
Terkadang, ada satu titik saat manusia tidak tahu-menahu saat ia bermain dengan waktu.

Sumber gambar: MyAnimeList
Judul Inggris: Your Name
Sutradara: Makoto Shinkai
Produser Noritaka Kawaguchi, Genki Kawamura
Penulis Naskah: Makoto Shinkai
Pemain: Ryunosuke Kamiki, Mone Kamishiraishi, Masami Nagasawa, Etsuko Ichira, Ryo Narita, Aoi Yuki, Nobunaga Shimazaki, Kaito Ishikawa, Kanon Tani
Musik: RadWimps
Studio: CoMix Wave Films
Distributor: Toho
Durasi: 107 menit
Telah diterbitkan menjadi novel di tahun yang sama

Mitsuha is the daughter of the mayor of a small mountain town. She's a straightforward high school girl who lives with her sister and her grandmother and has no qualms about letting it be known that she's uninterested in Shinto rituals or helping her father's electoral campaign. Instead she dreams of leaving the boring town and trying her luck in Tokyo.
Taki is a high school boy in Tokyo who works part-time in an Italian restaurant and aspires to become an architect or an artist. Every night he has  a strange dream where he becomes... a high school girl in a small mountain town.

***

Bagiku, menonton film anime menjadi salah satu hal yang sangat kusukai. Sejujurnya, aku tidak dapat menamai diriku sebagai pecinta anime. Toh, anime yang aku tonton hanya terbetas di Detektif Conan dan kawan-kawannya. Jadi, referensiku mengenai karya buatan Negeri Sakura ini masihlah sangat sedikit.

Bermula dari suatu obrolan di grup whatsapp BBI Jabodetabek, tersebutlah judul anime yang baru tayang, yakni Kimi no Na wa, atau dalam bahasa inggrisnya bisa disebut sebagai Your Name. Sebenarnya, aku tak memiliki pretensi apa-apa terhadap anime ini. Bahkan, setelah obrolan tersebut, aku tidak kepikiran untuk mencari filmnya dan mengunduhnya. Kemudian, beberapa hari yang lalu, saat aku didera kebosanan dan menginginkan menonton film, maka meluncurlah aku ke suatu situs pengunduhan gratis untuk mencari film yang sekiranya bisa kutonton. Nah, pada saat mencari film berdasarkan rating, ternyata Kimi No Nawa ini mendapat rating yang tinggi. Kalau tidak salah ingat, rating film ini mencapai 8.6/10 versi iMDB. Wow! Siapa yang tak tertarik dengan film ini kalau demikian?

Taki dan Mitsuha. Sumber: Frobes
Mitsuha Miyamizu adalah seorang gadis SMA biasa yang tinggal di suatu kota bernama Itomori. Semenjak ibunya meninggal, Mitsuha dan adiknya, Yotsuha, tinggal bersama neneknya yang mengikuti ajaran Shinto begitu kuat. Dimulai dari kebiasaannya untuk menenun benang, hingga tarian yang ditujukan sebagai cara pembuatan kuchikamikaze. Ayah Mitsuha saat itu sedang menjadi walikota dan berkeingan untuk mencalonkan diri lagi. Dengan hidup yang begitu membosankan, pada akhirnya Mitsuha ingin untuk tinggal di Tokyo saja sebagai seorang pemuda tampan.

Di sisi lain, ada Taki Tachibana. Seorang pemuda yang memiliki umur yang sama dengan Mitsuha. Ia tinggal bersama dengan ayahnya di pusat kota Tokyo. Taki sendiri bekerja paruh waktu di sebuah restoran Italia. Di sanalah ia tertarik dengan rekan kerjanya, Miki Okudera. Akan tetapi, terkadang, Taki merasa kalau ada yang lain dalam dirinya. Ia merasa pernah mengalami kehidupan sebagai seorang gadis di sebuah kota di pegunungan Hida.

Sebuah kenyataan menghantam Mitsuha dan Taki. Entah dengan cara apa, mereka berdua dapat bertukar tubuh. Sehingga, terkadang saat mereka bangun, Mitsuha berada pada tubuh Taki dan Taki berada pada tubuh Mitsuha. Hal ini terjadi secara acak dan tidak dapat diprediksi. Untuk memperingatkan diri masing-masing, Mitsuha dan Taki pun membuat catatan di gawai masing-masing. Sebagai contoh, janji kencan yang dirancang oleh Mitsuha untuk Taki. Hal ini terus berlanjut sampai Mitsuha mengatakan kalau hari itu adalah hari saat sebuah komet melintas di kotanya. Sejak saat itu, Taki tidak dapat menghubungi Mitsuha. 

Bertemu di batas waktu. Sumber: Alphacodes
Karena begitu penasaran dan ingin bertemu dengan Mitsuha, akhirnya Taki dibantu oleh Okudera dan temannya--Tsukasa, mencari keberadaan dari tempat tinggal Mitsuha. Berbekal sebuah sketsa pemandangan yang dibuat oleh Taki, mereka bertiga pun berkelana di prefektur Hida untuk mencari kota tempat tinggal Mitsuha. Pada awalnya, Taki sudah akan putus asa, karena seolah-olah Mitsuha adalah karakter fiksi yang ada di bayangannya. Namun kemudian, harapan muncul saat salah seorang pelayan restoran mengenali sketsa Taki. Akan tetapi, satu kenyataan lagi-lagi menghantam Taki. Ternyata, sketsa tersebut adalah sketsa dari Kota Itomori--kota yang hilang karena jatuhnya komet di kota tersebut tiga tahun yang lalu. Jadi, siapa sebenarnya Mitsuha Miyamizu? Apakah semua kejadian yang dialami oleh Taki hanyalah mimpi semata?

Harus aku akui, Kimi no Na wa adalah jenis anime yang membuatku terkaget-kaget dengan twistnya. Makoto Shinkai ternyata adalah salah satu sutradara terkenal di Jepang. Beberapa filmnya sebelum Kimo no Na wa pun menuai sukses yang luar biasa. Jadi, tidak heran bila Kimi no Na wa ini menjadi salah satu film tersukses yang dibuat oleh Shinkai.

Dari segi cerita, aku tak perlu meragukan lagi. Ceritanya benar-benar mind blowing dan sangat mencengangkan. Bagiku, cerita dalam Kimi no Na wa ini bukanlah cerita yang biasa. Shinkai mencoba untuk menggabungkan antara dimensi ruang dan waktu. Saat aku menontonnya pun, aku selalu bertanya-tanya, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Mitsuha dan Taki akan benar-benar bertemu? Perkembangan karakter Taki dan Mitsuha pun sangat mengesankan. Menurutku, perasaan yang muncul di antara mereka terbangun secara alami. Sehingga, terkesan tidak dipaksakan. Kemudian, satu hal yang kusukai dari film ini adalah, tidak ada pemaksaan akan waktu. Menurutku, cerita yang bermain-main dengan waktu pastilah sangat sulit untuk dibuat. Sang pengarang harus dapat menyambungkan fragmen-fragmen waktu menjadi masuk akal. Hal ini tentunya menjadi tantangan sendiri untuk Shinkai.

Sumber gambar: maxres, disunting oleh Puji
Kemudian, dari segi gambar pun, aku juga tidak kecewa. Dalam beberapa hal, terlihat jelas kalau gambar dari Kimi no Na wa terlihat sangat nyata. Sebagai contoh adalah penggambaran gawai yang dipakai oleh masing-masing karakter. Menurutku, hal yang senyata itu sangat keren saat ditayangkan dalam bentuk anime. Soundtrack lagunya pun juga bagus-bagus. Jadi, aku sangat merekomendasikan film ini untuk ditonton. Hoho.

4 bintang untuk kerumitan waktu yang tercipta.

Sincerely,

Puji P. Rahayu

2 comments:

Non Review,

Top Ten Tuesday: Top Ten Books on My TBR List

Tuesday, March 14, 2017 Puji P. Rahayu 10 Comments

Top Ten Tuesday is an original feature/weekly meme created by The Broke and the Bookish. If you want to know more about this feature, you can find the terms and conditions here.


Aloha!
Another Top Ten Tuesday would be discuss on this post. Since I enter my sixth semester, I don't know why, but I got a lot of new books. Yeay! I am very grateful for it, Most of the book I got from such a giveaway and gift exchange. Some of them are my personal collection--because I have to buy it. Lol!

1. The Adventure of Tom Sawyer - Mark Twain
Actually, I borrow this book from my university library. If you ask me why I choose this book instead of another one, to be honest, I didn't know. Maybe, I just curious with this classic book, or maybe, It is just me who want to read a book from 1001 list.

2. Cinder by Marissa Meyer
Well, I got this book because I won a giveaway that held by Afifah Tamher and Mandewi for BBI Share the Love Event. I have to admit that this book is on my list since a long time ago. And, I am eager to read it soon.

3. HAM dan Politik Internasional (Human Rights and International Politics) by Ani W. Soetjipto
Okay, this is one of my college material. In this sixth semester, I decided to take Human Rights in International Relations class. And, this book is one of reading material to understand the basic things from human rights.

4. International Human Rights by Jack Donnelly
Hoho, Another my reading material for the Human Right in International Class. Actually, this book is some guideline for me. Hopefully, after I read this book, it would be easy for me to make any final paper.

5. Atheis by Achdiat K. Mihardja
Ehm, this book is an old book in Indonesia. It talked about someone who being atheist. Honestly, I just want to download save it in my reading apps. Since then, this book always there and I don't know when will I read it. Lol.

6. Sucktown, Alaska by Craig Dirkes
Actually, I got this book as an ARC from Netgalley. And, to be honest, I forget why I requested this book. Lol. But, I promise that I would read this book till finish. 

7. Half of a Yellow Sun by Chimamanda Ngozi Adichie
This year, I join Read and Review Challenge that held by Blogger Buku Indonesia (the biggest book blogger community in Indonesia). One of the category is the author from five continents. So, I try to search about African author and I find this book. Hopefully, this book would be great and I could enjoy it.

8. Maryam by Okky Madasari
Okky Madasari is one of the best author in Indonesia. She has a good talent in writing and I adore her work so much--even though I only read one of her books. Many friends of me has been recommend Maryam to me. So, I think I would search this book and read it.

9. Girls in the Dark by Akiyoshi Rikako
Girls in the dark is a Japanese Literature that has been translated into bahasa. This book is on my long list for now. I hope that I could get this book soon and I could find many mysteries from this book.

10. Jingga untuk Matahari (Orange for Sun) by Esti Kinasih
The most awaited teenlit book in Indonesia. I couldn't say much about this, but since I followed the first and the second book, the third book automatically is on my list. 

Yap, that's all about my TBR list. I wouldn't want to say that this is my Spring TBR List, because, I have to admit that in Indonesia the are only two seasons. Lol. I hope that I could read all of the book from this TBR.

Okay, then. How about? What's on your TBR? Tell me, then.

Sincerely,

Puji P. Rahayu

10 comments:

Contemporary Romance,

Resensi Buku: L - Kristy Nelwan

Friday, March 10, 2017 Puji P. Rahayu 0 Comments


L
Mungkin, sebuah karma lah yang menimpa kehidupan Ava Torino. Who knows?

Karya Kristy Nelwan
4 dari 5 bintang

Sumber gambar: Goodreads
Judul buku: L
Penulis: Kristy Nelwan
Editor: A. Ariobimo Nusantara
Asisten editor: Veronica B. Vonny
Penata isi: Gun
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: April 2012, cetakan keempat
Tebal buku: VIII+344 halaman
ISBN: 978-979-025-417-6
Pinjam di iPekanbaru dan iJakarta
Ava Torino, twentysomethinggirl, yang bekerja sebagai produser di sebuah stasiun televisi lokal di Bandung, agak berbeda dengan perempuan pada umumnya. Ava not really into romantic or love things. Ia menganggap pacaran adalah sesuatu yang seharusnya fun. Dan, biar semakin fun, ia nekad meneruskan ide gilanya semasa kuliah dulu: berganti-ganti pacar, sampai ke 26 alfabet tergenapi sebagai huruf awal nama-nama sang pacar.
Dengan ke-adventurous-annya, tidak sulit bagi Ava untuk memenuhi rencana gilanya itu. Namun, tanpa disangka, cowok yang paling sulit ditemukan justru yang namanya berawal huruf L. Maka, cara berpikirnya yang logis memutuskan, siapa pun dia, si L akan menjadi the Last Love nya. Sayang, Ava tidak menyadari betapa rahasia semesta ini terlalu besar untuk ditaklukkan oleh logika pikirannya.... hingga terjadilah peristiwa itu.... 

Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Pada dasarnya, saat aku mencomot novel ini di aplikasi iPekanbaru, aku tidak berkekspektasi apa-apa. Aku hanya sekadar ingin membaca bacaan ringan. Mulai dari blurb yang cukup catchy, akhirnya aku memutuskan untuk membaca L. Karena aku belum pernah membaca karya Kristy Nelwan sebelumnya, akhirnya aku memutuskan untuk searching dulu di Goodreads, dan betapa kagetnya aku saat menyadari bahwa novel ini dipandang out of the box. Mengetahui fakta tersebut, aku pun bersemangat untuk membaca novel ini.

Bergonta-ganti pasangan? Itulah yang dilakukan oleh seorang Ava Torino. Trauma akan pacar-pacarnya dahulu kala, Ava pun bertekad gonta-ganti pacar hingga nama pacarnya sampai 26 alfabet. Absurd? Sangat. Bahkan, menurutku hal ini sama sekali nggak masuk akal. Ada gitu orang se'kurang-kerjaan' kayak Ava?

Tanpa pretensi apa-apa, aku mulai menggeser layar ponselku. Diawali dari adegan pemutusan pacar Ava yang ke sekian, novel ini disajikan dengan bahasa yang ringan. Tidak terlalu sulit untuk dipahami maksudnya. Bahkan, menurtku, sangat enak dibaca. Ada selipan-selipan humor yang disisipkan oleh Kristy.

Merujuk pada obsesi Ava, maka kita akan berpikir bahwa Ava akan kesulitan menemukan pacar dengan nama berawalan Q atau X. Nyatanya, Ava malah kesulitan mendapatkan pacar dengan naa berawalan L. Pada saat berlibur ke Yogyakarta, Ava bertemu dengan seorang cowok. Secara tipe, cowok itu tipe dia banget. Sayangnya, cowok itu bernama Rei. Tentunya, nama cowok ini membuat semangat Ava padam. Akan tetapi, di malam yang sama, Ava bertemu dengan kenalan teman Ava. Seseorang yang ternyatan bernama depan L. Ludi.
"'L' kan huruf sakral, bisa berarti Last atau Love." - Ava. hlm. 32.
Dengan ditemukannya si L ini, Ava berniat untuk bertobat. Ia ingin menyerahkan cinta dan hidupnya pada Ludi. Ternyata, hal ini mendapat sambutan positif dari Ludi. Hubungan antara Ava dan Ludi terus berlanjut. Bahkan, bisa mencapai satu tahun lebih. Maka dari itu, Ava berani untuk mengambil keputusan lebih jauh dan menerima lamaran dari Ludi.

Sumber gambar: Google, disunting oleh Puji.
Di tengah semarak kebahagiaan persiapan pernikahan, Ava malah mendapatkan masalah. Stasiun televisi tempatnya berkerja tidak memberikan insentif yang sebanding dengan kerja kerasnya. Apalagi, kontrak karyawan pun tidak segera diturunkan oleh pihak pimpinan perusahaan. Setelah satu insiden menimpa sahabat Ava, Ava akhirnya memilih untuk mengundurkan diri. Hal ini didukung oleh Ludi yang sedari dulu khawatir dengan pekerjaan Ava. Kemudian, Ava mencoba melamar pekerjaan di Jakarta dan betapa kagetnya ia saat bertemu lagi dengan Rei. Karena tidak  mengenal siapapun di kantor barunya, akhirnya, Ava dan Rei menjadi akrab. Bahkan, Rei banyak mengubah kehidupan Ava dengan tindakan-tindakannya. Sampai satu titik, Ava menyadari ada perasaan yang berbeda dalam diri Ava terhadap Rei. Akan tetapi, rahasia kelam Rei, serta perjanjian Ava pada dirinya sendiri, membuat kisah mereka menjadi rumit dan menyedihkan.

Rasanya, sudah lama sekali aku tidak menangis karena membaca novel. Dan, aku cukup amazed saat L karya Kristy Nelwan ini berhasil membuatku tersedu-sedu. Padahal, aku sudah menyadari kalau skenario terburuk akan terjadi sejak awal membaca cerita ini, tapi aku masih saja tetap menangis. Rupanya, Kristy Nelwan berhasil mengaduk emosiku dengan gayanya bercerita,

Meskipun memang sulit untuk menghakimi apa yang dilakukan oleh Ava, tapi setidaknya aku mengerti perasaannya. Perasaan kepada orang yang ia tahu tidak akan bisa selamanya dengannya. Aku pun juga menyadari ada yang tidak beres dalam sikap Ludi. Meskipun aku masih bertanya-tanya apa yang berbeda.
"Hidup itu emang nggak gampang, tapi juga nggak perlu diperumit. Kita harus jaga konstanitasnya, menjaga kesadaran kita tetap ada dalam kadar yang tepat." hlm. 290.
Dua hal yang kudapat dari novel ini sebenarnya. Yang pertama adalah mengenai rokok. Sebenarnya, aku pun juga hidup di sekitar orang-orang yang suka merokok. Asap-asap bernikotin itu sudah sering menyerang paru-paruku. Mungkin, dengan aku membaca novel ini, aku harus mulai berhati-hati terhadap asap rokok; dan yang kedua adalah mengenai toleransi beragama. Di novel ini, Rei mengajak kita untuk melihat lebih jauh mengenai perbedaan agama. Aku suka dengan cara pandang Rei yang menyatakan bahwa "Aku ibadah bukan karena takut, tapi karena aku ingin berkomunikasi dengan Tuhan." Betapa hal inilah yang seharusnya dilakukan oleh setiap orang.

Menurutku, novel ini patut untuk dibaca. Sebagai bacaan ringan dan juga pengingat untuk kehidupan kita masing-masing. Bagiku, novel ini sangat berkesan karena berhasil membuatku menangis sedemikian rupa,

Sincerely,
Puji P. Rahayu

0 comments:

Gramedia Pustaka Utama,

Resensi Buku: Entrok - Okky Madasari

Thursday, March 09, 2017 Puji P. Rahayu 4 Comments


Entrok
Tentang perempuan, kepercayaan, dan juga politik. Sebuah drama kehidupan yang terjadi di zaman patriarki nan otoriter.

Karya Okky Madasari

5 dari 5 bintang

Judul                           : Entrok: Sebuah Novel
Penulis                         : Okky Madasari
Ilustrasi dan sampul    : Restu Ratnaningtyas
Penerbit                       : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit                 : April, 2010
Tebal buku                  : 288 halaman
ISBN                           : 978-979-22-5589-8
Pinjam di Perpustakaan Pusat, Universitas Indonesia.
Marni, perempuan Jawa buta huruf yang masih memuja leluhur. Melalui sesajen dia menemukan dewa-dewanya, memanjatkan harapannya. Tak pernah dia mengenal Tuhan yang datang dari negeri nun jauh di sana. Dengan caranya sendiri dia mempertahankan hidup. Menukar keringat dengan sepeser demi sepeser uang. Adakah yang salah selama dia tidak mencuri, menipu, atau membunuh?
Rahayu, anak Marni. Generasi baru yang dibentuk oleh sekolah dan berbagai kemudahan hidup. Pemeluk agama Tuhan yang taat. Penjunjung akal sehat. Berdiri tegak melawan leluhur, sekalipun ibu kandungnya sendiri.
Adakah yang salah jika mereka berbeda?
Marni dan Rahayu, dua orang yang terikat darah namun menjadi orang asing bagi satu sama lain selama bertahun-tahun. Bagi Marni, Rahayu adalah manusia tak punya jiwa. Bagi Rahayu, Marni adalah pendosa. Keduanya hidup dalam pemikiran masing-masing tanpa pernah ada titik temu.
Lalu bunyi sepatu-sepatu tinggi itu, yang senantiasa mengganggu dan merusak jiwa. Mereka menjadi penguasa masa, yang memainkan kuasa sesuai keinginan. Mengubah warna langit dan sawah menjadi merah, mengubah darah menjadi kuning. Senapan teracung di mana-mana.
Marni dan Rahayu, dua generasi yang tak pernah bisa mengerti, akhirnya menyadari ada satu titik singgung dalam hidup mereka. Keduanya sama-sama menjadi korban orang-orang yang punya kuasa, sama-sama melawan senjata. 
Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Entrok dan Sekilas Cerita
Adalah Entrok. Secarik kain yang digunakan untuk menutup dada seorang perempuan. Di zaman sekarang ini, istilah bra atau beha lebih sering digunakan untuk menggantikan entrok. Saat pertama kali saya mendengar judul novel ini, saya mulai bertanya-tanya. Apa itu entrok? Istilah bahasa jawa apa itu? Barulah setelah saya membaca novel ini, saya mengerti apa artinya. Menurut saya, judul dari novel karangan Okky Madasari ini begitu menarik. Satu kata saja. Tapi, sudah membuat penasaran pembaca. Pemilihan judul ini pun ternyata bukan hal yang sembarangan. Entrok sendiri menjadi salah satu elemen vital dalam kehidupan kedua tokoh utama, yakni Marni dan Rahayu.
Bagi Marni, memiliki entrok adalah suatu hal yang sangat mahal. Terlahir dalam keluarga miskin, Marni hanya tahu bahwa saat perempuan bekerja, maka upah yang diberikan oleh pemberi kerja bukan berbentuk uang, melainkan berupa bahan makanan. Betapa tidak adilnya keadaan saat itu. Seiring dengan pertumbuhan tubuhnya yang semakin pesat, Marni menyadari ada yang berbeda dari tubuhnya. Dadanya mulai membesar dan terasa tidak enak bila dibiarkan ngglawer-ngglawer. Maka dari itu, menentang perkataan dari Simbok, Marni akhirnya bekerja seperti laki-laki dengan nguli. Dengan pekerjaan itu, akhirnya Marni mendapat uang untuk membeli entrok. Akan tetapi, nyatanya Marni sadar bahwa ia harus berusaha keras untuk keluar dari jaring kemiskinan. Marni pun mulai bakulan dari modal yang ia dapat selama nguli. Sejak saat itulah, perekonomian Marni sedikit demi sedikit mulai naik. Sampai akhirnya, Marni dikenal sebagai juragan yang sukses di Singget. Sayangnya, kebahagiaan Marni tidaklah sempurna. Selain mempunyai suami, Teja, yang malas dan tidak setia, Marni terpaksa harus memiliki hubungan yang jauh dengan anaknya sendiri, Rahayu.
            Bagi Rahayu, ibunya, Marni, adalah sosok pendosa. Setiap hari, Marni memberikan utangan kepada seluruh pedagang yang ada di Pasar Ngraget dan mengambil untung sepuluh persen dari utangan yang diberikan. Kemudian, hampir setiap malam, Marni selalu memberikan sesajen kepada leluhur dan berdoa di bawah pohon. Rahayu merasa kalau ibunya sudah terlalu jauh dengan Gusti Allah. Gunjingan-gunjingan mengenai Marni pun sampai di telinga Rahayu. Maka dari itu, Rahayu semakin enggan untuk berhubungan dengan ibunya. Bahkan, Rahayu lebih memilih untuk memutuskan jalinan komunikasi di antara keduanya. Setelah menikah dengan seseorang yang lebih tua darinya, Amri, Rahayu memutuskan untuk mengikuti Amri dan tidak pernah kembali lagi ke Singget untuk menemui orang tuanya.
Sumber gambar: pinterest, disunting oleh saya,
Rumit, Rumit, dan Rumit: Perbenturan Berbagai Sisi Kehidupan
Bagi saya, Entrok merupakan karya yang sangat rumit. Sebaiknya, pembaca jangan terkecoh dengan sampul bergambar punggung seorang perempuan ini, karena, banyak sekali hal yang diungkap dalam Entrok. Berbagai macam perbenturan disajikan dalam novel bersampul sederhana ini. Mulai dari benturan budaya, agama, hingga politik. Jujur saja, saya merasa terkaget-kaget saat membaca Entrok. Selain ini pertama kalinya saya membaca karya Okky Madasari, Entrok juga—lagi-lagi—memberikan pandangan yang berbeda bagi saya atas sejarah Indonesia. Selama saya membaca Entrok, banyak sekali hal yang dapat dijadikan pelajaran. Bagaimana dulu seorang perempuan dianggap sangat rendah, masih banyak orang yang mempercayai kekuatan dari leluhur, hingga sisi kelam dari negeri ini selama masa pemerintahan Orde Baru.
           Melalui sudut pandang orang pertama, Okky Madasari membuat saya bisa menyelami perasaan Rahayu dan Marni. Meskipun sudut pandang yang digunakan bergantian dari sisi Marni dan Rahayu, alur dari novel ini menurut saya cukup rapi. Yaa, meskipun terkadang saya sempat tak menyadari bagian apa merupakan sudut pandang siapa. Akan tetapi, hal tersebut tidak terlalu menggangu saya.
            Seperti yang sudah saya nyatakan di atas, novel Entrok mengangkat berbagai permasalahan yang terjadi di Indonesia pada tahun 1950-1990an. Secara tidak langsung, Entrok mencoba untuk menggambarkan konsep feminisme melalui tindakan Marni. Setidaknya, Marni mencoba membuka mata pembaca bahwa tanpa adanya tindakan, maka nasib seorang perempuan tidak akan kemana-mana. Sehingga, harus ada upaya yang sungguh-sungguh untuk mendobrak tradisi yang sudah ada.
            Lalu, mengenai agama. Bagi saya, wajar bila ada seseorang yang tidak pernah mengenal agamanya sendiri. Bukankah agama yang diharuskan ditulis di KTP merupakan arahan dari pemerintah? Terlahir sebagai seseorang yang hanya tahu mengenai roh leluhur, tidak heran bila Marni tidak mengenal Gusti Allah. Hal ini pun diakui sendiri oleh Marni,
“Tapi bagaimana aku bisa menyembahMu kalau kita memang tidak pernah kenal?”
Tentunya, membaca kutipan tersebut, membuat saya menyadari bahwa bukan salah seseorang apabila ia tidak mengenal Tuhan. Sayangnya, terkadang orang lain yang merasa ‘terikat’ dengan Tuhan, malah mencemooh dan mencela. Menurut saya, dalam hal ini, Okky ingin menekankan bahwa orang Indonesia masihlah orang-orang yang terikat dengan budayanya. Sehingga, masih banyak adat-istiadat yang dilakukan. Jadi, apakah perlu orang-orang ini disalahkan atas keyakinan yang mereka miliki? Baiklah. Saya tidak akan banyak berkomentar.
            Terakhir adalah tentang salah satu aspek yang sangat sensitif menurut saya. Mengenai politik. Tidak dapat dipungkiri bahwa pada dasarnya politik di Indonesia banyak memiliki cacat. Penggambaran masa pemerintahan Orde Baru terasa menggelitik bagi saya. Bagaimana seseorang dianjurkan ‘secara halus’ untuk memilih partai tertentu. Lalu, pemberian semacam insentif ke pihak-pihak yang ‘berkuasa’—hal ini dilakukan oleh Marni bertahun-tahun untuk menghindari huru-hara. Betapa tidak jelasnya perpolitikan pada zaman itu! Setidaknya, dari Entrok saya memahami bahwa ada sisi-sisi kelam dari negeri ini. Hal seperti ini jugalah  yang membuat saya menyukai fiksi sejarah seperti Entrok.

Refleksi untuk Entrok
Secara keseluruhan, saya puas dengan Entrok. Saya cukup mendapatkan pelajaran dari novel setebal 288 halaman ini. Namun demikian, saya cukup menyayangkan elemen dari entrok itu sendiri. Meskipun saya mengatakan bahwa entrok merupakan salah satu hal yang vital dalam kisah Marni dan Rahayu, nyatanya, jiwa dari entrok ini sendiri tidaklah sampai akhir cerita. Tidak ada lagi pembahasan mengenai kata yang menjadi judul ini. Sayang sekali. Mungkin, apabila narasi mengenai entrok ini lebih dijabarkan, maka entrok di sini tidak akan kehilangan nyawanya.
           Terlepas dari kekurangan tersebut, saya masih tetap merekomendasikan novel ini untuk dibaca. Meskipun sudah terbit lebih dari lima tahun yang lalu, novel ini masihlah relevan karena ada berbagai macam pelajaran yang dapat diambil. Bagi siapapun yang ingin memahami pergolakan sosial dalam masyarakat Indonesia, Entrok dapat menjadi pilihan untuk membuka wawasan Anda. 

Sincerely
Puji P. Rahayu

4 comments: