1001 Books You Must Read Before You Die,

Resensi: Alice's Adventure in Wonderland (Alice di Negeri Ajaib) - Lewis Carroll

Tuesday, July 25, 2017 Puji P. Rahayu 0 Comments

Alice's Adventure in Wonderland
Itu sebabnya pelajaran itu disebut lesson karena setiap hari selalu less. - Gryphoon.

oleh Lewis Carroll

3 dari 5 bintang

Sumver gambar: Goodreads
Judul: Alice's Adventure in Wonderland
Seri: Alice's Adventure in Wonderland #1
Genre: Klasik, Children Book
Penulis: Lewis Carroll
Alih Bahasa: Djokolelono
Desain dan Ilustrasi Sampul: Ratu Lakshmita Indira
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal buku: 144 halaman
Tahun terbit: 2016
ISBN: 078-602-03-2479-1
Baca via iJakarta


Di arah sana,”si Kucing melambaikan cakar kanannya, “tinggal si Tukang Topi. Dan di sebelah sana,” ia melambaikan cakar satunya, “tinggal si Kelinci Maret. Terserah siapa yang akan kaukunjungi. Dua-duanya gila.

Alice bosan pada buku yang sedang dibacanya, sebab di buku itu tak ada gambar maupun percakapan. Maka, ketika seekor kelinci putih lewat tergesa-gesa sambil melihat jam sakunya, Alice mengikutinya, dan dimulailah petualangan Alice di Negeri Ajaib––negeri yang penuh makhluk aneh dan eksentrik. Alice bertemu sang Duchess dan kucingnya yang bisa bicara, Tukang Topi dan Kelinci Maret yang sibuk dengan jamuan teh mereka, si Kura-Kura Palsu yang menceritakan kisah hidupnya, dan banyak lagi lainnya.


Info lebih lanjut dapat dibaca di:
Goodreads

Bagiku, membaca buku anak menjadi salah satu hal yang berguna. Saat kamu merasa lelah membaca buku yang cukup advance, membaca buku anak bisa menjadi pilihan. Apalagi, dongeng klasik yang seharusnya memang sudah diketahui oleh semua orang. Alice's Adventure in Wonderland ini menjadi pilihan yang tepat buatku untuk mengatasi burn out.

Alice adalah gadis yang biasa-biasa saja. Bersekolah menjadi salahs satu rutinitas yang ia jalani. Suatu ketika, saat ia sedang bermain dengan kakaknya, Alice melihat seekor kelinci putih besar. Penasaran, Alice pun mengikuti si kelinci tersebut masuk ke dalam sebuah lubang. Tak disangka. lubang tersebut membawa Alice ke tempat yang sama sekali tak pernah ia sangka dan bayangkan. 

Setelah proses jatuh yang lumayan lama, akhirnya Alice sampai di sebuah ruangan yang baginya aneh. Terdapat banyak pintu besar di ruangan tersebut. Sayangnya, keseluruhan pintu tersebut terkunci. Kelinci putih tadi ternyata pergi melewati sebuah pintu kecil yang tidak mungkin dilewati oleh Alice. Setelah berusaha mencari jalan keluar, Alice akhirnya menemukan kunci untuk pintu kecil tersebut dan juga sebuah ramuan dalam botol. Alice dengan sedikit ragu-ragu, meminum ramuan tersebut, dan akhirnya tubuh Alice menyusut dan terus menyusut. Dari sinilah, petualangan Alice di Negeri Ajaib dimulai.

***

Membaca kisah Alice ini membuatku senyum-senyum sendiri. Aku jadi teringat masa-masa saat aku suka sekali menonton kartun di televisi. Buatku, membaca kisah Alice menjadi hiburan tersendiri. Setidaknya, tidak perlu terlalu berpikir saat membacanya. Toh, ini adalah ksiah klasik yang cukup mudah dipahami, regarding the translation itself a little bit... kaku? Tapi masih bisa dipahami, kok.

Sebenarnya, aku tidak sengaja menemukan buku ini di aplikasi iJakarta. Berhubung aku memiliki janji pada diri sendiri untuk setidaknya mulai mencicil 1001 Books, akhirnya aku memberanikan diri membaca buku ini--okay, I actually ever tried to read Anna Karenina and The Great Gatsby, but then my phone was gone and I got some reading slump to continue my reading. Apalagi, buku ini hitungannya tipis. Jadi, dapat dibilang kalau bisa dibaca dalam sekali duduk.

Satu hal yang paling kusukai dari buku ini adalah, sampul dan juga ilustrasi yang disematkan. Benar-benar khas buku anak. Sampul yang digunakan cukup eye-catching dan koleksi-able. Yaa, sampul-sampul sederhana seperti ini sih yang sebenernya bikin orang ingin mengoleksinya. Lalu, untuk ilustrasinya sendiri menurutku sudah cukup menggambarkan cerita yang ada.

Oke, mungkin terkesan terlambat aku baru membaca kisah Alice sekarang. Akan tetapi, if I am not mistaken, tidak akan pernah ada kata terlambat untuk membaca kisah klasik.

3 bintang untuk petualangan Alice yang unik.

Sincerely,

Puji P. Rahayu

0 comments:

Gramedia Pustaka Utama,

Resensi: China Rich Girlfriend (Kekasih Kaya Raya) - Kevin Kwan

Monday, July 24, 2017 Puji P. Rahayu 0 Comments


China Rich Girlfriend
Whatever you want to do, your status still matter in the end. Your status and you position in the society.

oleh  Kevin Kwan
(Kekasih Kaya Raya)
2.5 dari 5 bintang

Sumber gambar: Goodreads
Judul: China Rich Girlfriend (Kekasih Kaya Raya)
Seri: Crazy Rich Asians #2
Penulis: Kevin Kwan
Genre: Romance
Alih bahasa: Cindy Kristanto
Editor: Barokah Ruziati
Sampul: Martin Dima
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2017
Tebal buku: 456 halaman
ISBN: 9786020337593
Harga: Rp98.000,- di TB. Gramedia Basuki Rahmat, Malang


Sekarang malam pernikahan Rachel Chu. Ia memakai cincin bermata berlian Asscher-cut, gaun pengantin yang sangat ia sukai, dan memiliki tunangan yang rela kehilangan semua harta warisan demi menikahinya. Namun, gadis itu sedih. Ayah kandungnya, yang tidak pernah ia kenal, takkan mengantarnya menuju altar. Lalu suatu kejadian mendadak membuat identitas pria tersebut terungkap. Dan Rachel pun terseret ke dalam dunia gemerlap Shanghai, yang berisi kemewahan tak terbayangkan dan orang-orang yang bukan sekadar kaya raya--mereka kaya tujuh turunan. 
"Sangat menghibur." -The Washington Post

Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Kegilaan kalangan jetset, nyatanya dapat ditemukan di mana saja. Jika Crazy Rich Asians mengajak kita untuk menyelami kehidupan kalangan jetset di Singapura, maka di buku kedua ini, kita akan diajak untuk mengenal lebih jauh kalangan jetset di Cina Daratan. Pergi menggunakan jet pribadi, berbelanja berbagai koleksi hot couture, hingga makan di restoran mahal. Kehidupan Rachel yang tadinya biasa saja, langsung berubah seratus delapan puluh derajat setelah mengetahui kehidupan keluarga ayah kandungnya.

Sejak mengetahui bahwa ayah kandungnya masih hidup, Rachel dan Nick berusaha untuk terus mencari informasi mengenai ayah Rachel yang kabarnya berada di Cina daratan. Hal itu dilakukan sebelum keduanya melangsungkan upcarai pernikahan. Pernikahan Rachel dan Nick sendiri diadakan secara tertutup. Nick pun sengaja tidak memberi tahu ibunya. Tentunya, Nick menyadari kalau ibunya masih belum dapat menerima pernikahannya dengan Rachel. Akan tetapi, sehari sebelum pernikahan, Eleanor berhasil mencapai tempat pernikahan Nick dan Rachel. Hal yang tak disangka-sangka, nyatanya Eleanor berhasil menemukan ayah Rachel.

The Opinion

Entah mengapa, aku merasa membutuhkan waktu yang lama saat membaca buku ini. Faktor tampilan fisiknya yang agak menyiksa--euh, ukurannya lebih dari B5, tebal bukunya yang hampir 500 halaman, hingga font yang digunakan sungguh kecil-kecil--membuatku cukup malas membacanya. Aku masih ingat, mulai membaca novel ini sejak sebelum lebara. Cause someone told me to read instead of play some virtual game. Lol. I tried to read, tho. But it's a little bit hard for mo to finish it. 

Selain memang tampilan fisiknya yang cukup membuat pusing, nyatanya gaya bercerita Kevin Kwan cukup tidak biasa. Mengapa aku bilang demikian? Meskipun di blurb disebutkan kisah mengenai Nick dan Rachel, nyatanya, Kwan mencoba untuk mencampurkan beberapa kisah dalam satu buku. Masih ada cerita tentang Astrid, sepupu Nick yang paling cantik dan keren, bersama suaminya, Michael, pengusaha di bidang teknologi yang mulai berhasil; cerita tentang Carlton Bao, adik Rachel, dengan salah satu fashion blogger terkenal di Cina, Collete; hingga cerita mengenai Kitty Pong--yang di buku pertama, eugh, menyebalkan.

Pada intinya, Kwan tidak hanya fokus pada kisah pernikahan antara Nick dan Rachel. Saat membaca buku ini, mungkin pembaca harus bersiap-siap untuk menemukan banyak sekali tokoh, jalan cerita yang terasa tidak ada hubungannya, dan hal-hal lainnya yang cukup tidak masuk di akal. I don't know. Maybe this is me who can't enjoyed it. In my opinion, If you want to stop in this second book, maybe you could. Because I couldn't sense some surprise element from this book. Ehm, something that will trigger me to read the third one. But, who knows, right? 

The Conclusion

In my humble opinion, this book is quite good. But not that much my cup of tea. I want to enjoy it, but then, many things that I couldn't bear with it. I red this book because I want to know who is Rachel's father and how Nick and Rachel could married in the end. 

Sebenarnya, masalah selera aja, sih. Jadi, ku hanya bisa menyematkan 2.5 bintang untuk buku bersampul kuning ini.

Sincerely,

Puji P. Rahayu

0 comments:

Ariestanabirah,

Resensi dan Giveaway: Dear, Me - Ariestanabirah

Monday, July 10, 2017 Puji P. Rahayu 13 Comments


Dear, Me
Perjuangkan mimpimu selagi bisa

oleh  Ariestanabirah


3 dari 5 bintang

Sumber gambar: goodreads
Judul: Dear, Me
Penulis: Ariestanabirah
Genre: Young Adult
Penerbit: PING (Laksana Gorup)
Penyunting: Diara Oso
Penyelaras Akhir: RN
Tata Sampul: Amalina
Tata Isi: Violetta
Pracetak: Endang
Tahun terbit: 2017
Tebal buku: 208 halaman
ISBN: 978-602-407-154-7
Buntelan dari penulis

Hidup menjomblo di usia yang semestinya sudah punya gandengan (minimal banget), dipecat dari perusahaan setelah 9 tahun mengabdi, ditambah krisis keuangan dan percaya diri. 
Zia berada di titik kritis dalam hidupnya. 
Di saat terpuruk, Zia teringat pada impiannya semasa SMA juga... cinta pertamanya. Apa kabarnya dia?
Ia menulis surat, lalu mengirimkan surat itu untuk dirinya di lima belas tahun lalu. Sebuah perbuatan iseng nan konyol. 
Tapi, siapa tahu kejaiban apa yang menantinya?

***

Dalam hidup, seseorang tidak akan pernah lepas dari penyesalan. Kita pasti, di saat tertentu, berharap bahwa kita tidak melakukan satu kesalahan di masa lalu, agar kemudian kita tidak menyesal di masa sekarang. Aku pun demikian. Aku pernah berpikir, "Why I did that? Why? I shouldn't did that thing." Aku pernah mengalami masa-masa seperti itu. Masa saat aku menyesali masa lalu. Masa saat aku menginginkan kesempatan untuk kembali ke masa lalu untuk memperbaikinya apa yang telah kulakukan. Sayangnya, hal tersebut menjadi tidak mungkin. Tidak akan pernah mungkin kan kita kembali ke masa lalu?

The Story

Bagi Zia Abila, kehidupannya sekarang benar-benar berantakan. Belum memiliki pasangan di usia yang matang, pekerjaan yang ia jalani tidak sesuai dengan passio-nya sebagai komikus--dan pada akhirnya dipecat, hingga tidak memiliki sahabat yang bisa menerima keluh-kesahnya. Zia menyesal banyak hal yang tidak ia lakukan dengan benar di masa lalu. Maka dari itu, Zia mencoba untuk mengirimkan surat untuk dirinya di masa lalu. Ia mencoba memperingatkan dirinya di masa lalu akan kesalahan-kesalahan yang ia lakukan.

Mungkin bagi kalian terdengar tidak mungkin hal tersebut terjadi. Akan tetapi, bagaimana kalau surat Zia di masa sekarang, benar-benar bisa dikirim untuk Zia di masa lalu? Akankah kehidupan Zia menjadi lebih baik?

Mengambil latar waktu tahun 2000-an, Kak Bilah mencoba untuk mengajak kita menyelami kehidupan masa SMA Zia. Masa-masa saat kita harus memilih kita mau menjadi apa. Masa-masa penentuan kalau buatku. Kita mau memilih jurusn kuliah apa, apakah kita mau mengikuti apa kata orang tua, atau kita ingin memperjuangkan passion kita sendiri? Menurutku, masa SMA adalah masa-masa kritis bagi remaja untuk menentukan jati diri mereka--eugh, lebih parah waktu kuliah, sih. But I know the feeling. 

Sepintas, kita akan benar-benar diajak untuk mendalami lagi mimpi serta passion kita. Intinya sih, membuka mata kita, bahwa pekerjaan-pekerjaan yang bersentuhan dengan seni, belum tentu tidak ada harganya. Kalian pasti pernah mendengar kan, sentimen bahwa menjadi pekerja seni tidak ada harganya? Aku sendiri pun sering mendengarnya. Maka dari itu, dalam Dear, Me, Kak Bilah mencoba memberikan pandangan baru mengenai pekerjaan yang berhubungan seni, yakni komikus. Yap, si tokoh utama, Zia, bermimpi menjadi komikus. Sayangnya, kedua orang tuanya tidak menyetujui rencana Zia. Dengan adanya surat dari masa depan, Zia pun akhirnya mencoba memperjuangkan mimpinya. Meskipun ia tidak tahu apakah orang tuanya benar-benar dapat mengabulkan permintaannya atau tidak.

Selain tentang mimpi, tentunya cerita tentang Zia tidak akan lengkap, tanpa adanya cerita mengenai persahabatan dan juga cinta. Surat dari masa depan menyebutkan bahwa sahabat terbaik Zia, Nana, akan meninggal karena Zia tidak memperhatikan sahabatnya tersebut. Apakah Zia berhasil menyelematkan Nana dari entah apa yang menimpanya? Selain itu, diam-diam, Zia juga berusaha mendapatkan hati dari pangeran pujaannya, Addis. Cowok yang terkenal penyendiri, bahkan dianggap aneh ini, nyatanya bisa menarik hati Zia. Akan tetapi, apakah mungkin Zia dapat mengungkapkan perasaannya kepada Addis supaya ia tidak menyesal di masa depan?

The Opinion
Membaca Dear, Me ini bisa dilakukan saat kamu ingin bernostalgia dengan zaman SMA. Kisah kehidupan SMA begitu melekat dalam novel ini. Mulai dari printilan upacara, kerja kelompok, hingga lomba bulan bahasa. Intinya sih, memang mengisahkan masa-masa SMA banget. Sejak pertama kali membaca tulisan Kak Bilah--sejak baca draft awal Yesterday in Bandung, aku suka dengan cara Kak Bilah bercerita. 

Eits, aku belum cerita ya. Jadi begini. Puji dan Kak Bilah pernah bekerja sama dalam satu novel keroyokan berjudul Yesterday in Bandung--eaa, shameless promotion. Di sinilah, aku pertama kali kenal Kak Bilah dan tahu gaya menulisnya. Aku suka karena gaya bercerita Kak Bilah itu menurut aku ringan. Mudah dimengerti. Mungkin terkesan formal, but I don't mind. Aku tetep suka.

Membaca Dear, Me membuatku refleksi kembali. Apakah benar jalanku yang kutempuh sekarang? Apakah nanti masa depanku akan baik-baik saja? Menggunakan sudut pandang orang pertama, membuatku bisa menyelami karakter Zia. Bagaimana Zia menyikapi hidup pada akhirnya. Kemudian, aku suka banget sama sampulnya. Cantik. Menarik pula untuk dipandang. 

Cerita yang disajikan menurut aku cukup menarik. Event though, in some part, I couldn't relate with some points--regarding my own sentiment, I still could enjoy the story. Intinya sih, kamu nggak akan menyesal kok untuk membaca novel ini. Menyenangkan dan ringan. Memberikan gambaran mengenai usaha meraih mimpi dan juga passion.

Disunting oleh Puji
The Conclusion
Untuk kalian yang menyukai cerita sarat akan refleksi diri, kalian bisa membaca Dear, Me. Bagiku, membaca novel-novel seperti Dear, Me ini dapat menyentil kesadaran kita. Tentang segala hal yang terjadi di sekitar kita.

3 bintang untuk mimpi Zia menjadi komikus.

UPDATE

Halo, teman-teman! 
Terima kasih sudah berpartisipasi dalam giveway novel Dear, Me. Setelah menimbang dan juga menganalisis, akhirnya, pemenang giveway ini pun terpilih. Siapa dia? Selamat kepada...

Monica Indah
@MonicaIndah5

Yeay! Nanti akan kuhubungi lewat DM, ya. Selamat sekali lagi. Untuk yang lain, semoga beruntung di lain kesempatan. 

Sincerely,
Puji P. Rahayu

13 comments:

Bincang-bincang BBI Lintas Generasi,

Bincang-bincang BBI Lintas Generasi: Kak Hana Si Bookstagramer

Thursday, July 06, 2017 Puji P. Rahayu 6 Comments

Aloha! 
Apa kabar semua? Bagaimana kabar kalian setelah hari raya? Semoga semakin berbahagia, ya. Baiklah. Setelah melewati berbagai macam bentuk cobaan--kemageran untuk update, akhirnya aku kembali lagi untuk feature Bincang-bincang BBI Lintas Generasi. Yeay! Dan, siapakah yang akan menjadi tamu aku kali ini? Hem, hem. Yuk, disimak.

#BincangBincangBBILintasGenerasi
Tidak bisa kita pungkiri lagi, kalau sekarang ini lagi zamannya bookstagram. Iya, memposting foto tentang buku. Nggak cuma makanan aja kok yang bisa difoto dengan cantik dan bikin ngiler yang lihat, buku juga bisa. Nah, dalam kesempatan kali ini, aku berhasil ngobrol-ngobrol cantik dengan salah satu bookstagramer yang menurut aku sih, rajin banget postingannya. Setiap hari pasti muncul deh di timeline aku. Hoho. Yap. Dia adalah...

HANA BILQISTHI

Bisa dipanggil Kak Hana :D
Sumber gambar: Instagram Kak Hana @HanaBilqisthi

Nah, mau tahu lebih lanjut soal Kak Hana? Berikut merupakan hasil ngobrol cantikku sama Kak Hana :D
Sebelumnya, aku pengin tahu deh Kak Hana sekarang sedang sibuk apa, sih? Pengin tahu kehidupan kakak yang sebenarnya *halah.
Hana sekarang bekerja sebagai staf pengelola data GCG dan KPKU di Kementerian BUMN. Selain itu, kesibukan Hana paling baca buku, posting foto di Instagram, dan menulis blog.
Sebagai sesama pecinta buku, kakak pasti punya satu atau lebih buku favorit yang membuat kakak jatuh cinta setengah mati sama membaca. Nah, share dong kak buku apakah itu? 
Buku favorit banyak tapi yang membuat jatuh cinta setengah mati sama membaca? Hmmm... Hana bingung jawabnya XD

Hana jawab buku favorit Hana aja ya.. Hehe.
  1. Pangeranku - Helvy Tiana Rosa
  2. Akira Muslim Watashi Wa - Helvy Tiana Rosa
  3. Reclaim Your Heart (Rebut Kembali Hatimu): Wawasan-Mencerahkan tentang Cinta, Duka, dan Bahagia - Yasmin Mogahed
  4. Big Little Lies - Liane Moriarty
  5. Rumah Tangga - Fahd Pahdepie
  6. Lapis-lapis keberkahan - Salim A Fillah
  7. Toto-chan Gadis Cilik di Jendela - Tetsuko Kuroyanagi
  8. The Secrets of Happy Families: Improve Your Mornings, Rethink Family Dinner, Fight Smarter, Go Out and Play, and Much More - Bruce Feiler
  9. Cahaya Abadi Muhammad SAW -  M. Fethullah Gulen
  10. Harry Potter dan Piala Api (#4) - J.K. Rowling
  11. The Defining Decade: Why Your Twenties Matter--And How to Make the Most of Them Now -Meg Jay
  12. I've Got Your Number - Sophie Kinsellla
  13. Trio Detektif

Dan masih banyak lagi
Kalau semisal kakak masuk ke dalam buku favorit kakak, Kak Hana mau jadi apa? Mengapa?
Hm...
Ai Haibara di Detektif Conan :D tapi agak ngeri juga ya tubuhnya jadi kecil dan terus mengecil XD
Jadi anggota Trio Detektif tapi kalau nambah Hana, judulnya bukan Trio lagi.. Wkwkw
Jadi siswa di Hogwarts :D
Ada banyak :D
Beralih ke dunia blogging. Sejak kapan Kak Hana aktif di dunia blog? 
Hana ngeblog dari tahun 2008 karena terinspirasi Raditya Dika. Pertama kali buat blog namanya Corat-coret Shirin Otaku dan urlnya juga shirinotaku.blogspot.com. Isinya cerpen dan diary, kemudian 3 Mei 2015 lalu namanya berubah lagi jadi The Luckiest dengan url hanabilqisthi.blogspot.com

Kalau jadi blogger buku, mulai Oktober 2015. Hana tertarik jadi blogger buku setelah melihat blog Ayu di Dunia dalam buku, blog Sulis Peri Hutan di Kubikel Romance dan blog Stefanie di The Bookie Looker. Melihat mereka membuat Hana berpikir bahwa menjadi blogger buku menyenangkan dan ternyata memang benar! Hana jadi berkenalan dengan banyak kutu buku lainnya dan kadang-kadang mendapat buku gratis dari penerbit.

Wah, aku lihat Kak Hana juga sudah mulai merambah dunia bookstagram, nih. Adakah tips dan trik untuk bookstagrammer pemula, kak?
Mulai dengan buku, kamera dan peralatan yang kamu punya dan jangan lupa tambahlan hashtag #Bookstagram saat posting foto buku di Instagram dan tag author serta penerbitnya (jika penulis dan penerbitnya memiliki akun instagram juga).  Kenalan lah dengan bookstagram yang lain (like dan comment) dan ikutan challenge bookstagram (bisa cek akun @bookstagramchallenges).

Instagram Kak Hana. Hampir semua postingannya berbau buku looh.
Pengalamanku sih bisa dapat like lebih banyak jika foto buku yang populer/hype, foto tumpukan buku, foto lemari buku dan foto diri sendiri dengan buku. Tips lain bisa baca:

Tips di atas banyak yang agak bertentangan satu sama lain karena yg berhasil buat seseorang belum tentu berhasil bagi orang lain. Jadi saran Hana sih coba semua yang menurutmu nyaman untuk dicoba sambil cari tahu cara apa yang cocok untuk diterapkan dengan kondisi diri sendiri.
Siapa sih bookstagrammer favorit kakak, dan kenapa?
Cait @paperfury, Emily  @emilyjmead, dan Kelly @divabooknerd karena mereka yang membuat Hana berkenalan dengan bookstagram. Setelah kenal bookstagram, ada banyak favorit Hana, salah satunya Celeste @prettygeekery karena foto-fotonya simple dan cantik https://hanabilqisthi.wordpress.com/2017/04/29/celeste-prettygeekery/

Terus, sepertinya aku sering sekali melihat pernak-pernik Harry Potter di akun, kak. Nah, coba Kak Hana promosikan #RaveclawPride kakak di sini. Hoho. *me as Slytherin student want to know. Lol.
Pernak pernik Harry Potter kakak:
  • Mug ravenclaw aja kok beli di tees.co.id/stores/stellaarts
  • Funko Luna Lovegood beli di blibli.com
  • Beberapa bookmark Harry Potter (ini ada yang hasil print sendiri setelah mencari free bookmark di google dan ada juga yang beli)
Terakhir, boleh dong kak sebutin lima fakta unik tentang kakak yang semua orang harus tahu. Hoho..Hana alergi minuman dingin jadi sering pesan minuman hangat
  • Hana alergi minuman dingin jadi sering pesan minuman hangat
  • Hana baca buku apa saja mulai dari komik, novel, non fiction tapi genre favorit itu contemporary romance dan genre yang paling dihindari horor
  • Warna favorit Hana itu pink dan biru
  • Hana menganggap diri Hana gadis paling beruntung
  • Hana itu Citong (cina sepotong). Ayah Hana Tionghoa dan Ibu Hana Sunda. 
***

Nah, demikianlah hasil obrolanku bareng kakak cantik yang satu ini. Intinya sih, kalau memang kalian pengin jadi bookstagramer, coba deh cari-cari referensi dari bookstagramer favorit kalian. Setelah itu, temukan bagaimana sih ciri kalian sendiri. Hoho. *sok bijak. Jangan lupa pula untuk mengikuti aturan dasar dalam menjadi bookstagrammer--aturan dasar apa sih, Puj? Haha. Yaaa, tips yang di-share Kak Hana di atas lah...

Horay! Sudah sampai di penghujung tulisan. Kira-kira, siapa ya yang akan kuajakin ngobrol di kesempatan selanjutnya? Sila ditunggu saja, wankawan :D

Sincerely,

Puji P. Rahayu

6 comments:

Fantasi,

Resensi: The Wrath and the Dawn - Renee Ahdieh

Thursday, June 22, 2017 Puji P. Rahayu 4 Comments


The Wrath and the Dawn
Seratus kehidupan untuk satu nyawa yang kau ambil. Satu kehidupan untuk satu fajar. Jika kau gagal satu kali saja, akan kurampas mimpi-mimpimu. Akan kurampas kotamu.
Dan akan kurampas kehidupan-kehidupan ini, seribu kali lipat.

oleh Renee Ahdieh

3.5 dari 5 bintang

Sumber gambar: Goodreads
Judul: The Wrath and the Dawn
Seri: The Wrath and the Dawn #1
Penulis: Renee Ahdieh
Genre: Fantasi, Young Adult
Penerjemah: Mustika
Penyunting: Katrine Gabby Kusuma
Penata Letak dan Perancang Sampul: Deborah Amadis Mawa
Tebal buku: viii+447 halaman
Penerbit: POP,  imprint dari Penerbit KPG
Tahun Terbit: 2016
ISBN: 978-602-6208-74-3
Pinjam dari Fitrandi Fauzi


Terinspirasi dari Kisah 1001 Malam
Khalid Ibnu al-Rashid, Khalif Khorasan yang berusia delapan belas tahun, adalah seorang monster. Dia menikahi perempuan muda setiap malam dan menjerat pengantin barunya dengan tali sutra saat fajar tiba. Ketika sahabatnya menjadi korban kezaliman Khalid, Shahrzad al-Khayzuran bersumpah akan menuntut balas. Gadis enam belas tahun itu mengajukan diri menjadi pengantin Sang Khalif. Shahrzad tak hanya bertekad untuk bertahan hidup, tetapi juga bersumpah akan mengakhiri rezim kejam sang raja bocah.
Malam demi malam, Shahrzad memperdaya Khalid, menceritakan kisah-kisah memikat yang membuatnya terus bertahan, meski tiap fajar bisa jadi merupakan saat terakhirnya melihat matahari terbit. Tetapi sesuatu yang tak terduga mulai terkuak: ternyata Khalid bukanlah sosok yang Shahrzad bayangkan. Sikapnya sama sekali tidak mencerminkan seorang pembunuh berdarah dingin. Mata emasnya memancarkan kehangatan. Monster yang ingin dilawan Shahrzad itu tak lebih daripada pemuda dengan jiwa yang tersiksa. Dan Shahrzad mulai jatuh hati kepadanya….

Info lebih lanjut dapat dibaca di:

Terkadang, suatu perbuatan yang begitu hina dan kejam, memiliki pembenaran di baliknya. Mungkin, memang perbuatan tersebut tidak akan pernah dimaafkan. Akan tetapi, di satu sisi, mungkin ada yang memahami mengapa perbuatan tersebut harus dilakukan. Penjelasan paling masuk akal adalah, melakukan perbuatan yang menyakitkan untuk kemudian mencegah satu hal yang lebih buruk terjadi ke lebih banyak orang. Tidak masuk akal? Oh, c'mon! Pada dasarnya hal-hal seperti ini mungkin saja terjadi.

Aku akan hidup untuk menyaksikan matahari terbenam esok. Jangan buat kesalahan. Aku bersumpah akan hidup untuk menyaksikan sebanyak mungkin matahari terbenam.Dan aku akan membunuhmu.Dengan kedua tanganku.

Raja Bocah dan Istrinya
Khalid Ibnu Al-Rashid, adalah Khalif Khorasan yang dapat dikatakan merupakan seorang monster. Tiap hari, ia menikahi gadis yang berbeda untuk keudian, gadis tersebut harus dijerat menggunakan tali sutra saat fajar. Tidak ada yang pernah mengetahui alasan sebenarnya dari tindakan Sang Khalif. Seluruh rakyat di Rey tidak pernah tahu mengapa anak mereka harus menjadi korban dari kekejaman yang dilakukan. 

"Semua hidup kita akan hilang, Sayyidi. Masalahnya adalah kapan. Dan aku hanya menginginkan satu hari lagi." Shahrzad, hlm. 44.

Shahrzad al-Khayzuran merupakan gadis yang menawarkan diri untuk menjadi istri Khalid. Niat awalnya adalah untuk membalas dendam atas kematian sahabatnya, Shiva. Keputusan Shahrzad bukanlah keputusan yang mudah. Ayahnya, Jahandar, sangat tidak rela apabila Shahrzad menjadi istri dari Sang Khalif. Namun, apa mau dikata. Shahrzad adalah seorang perempuan yang keras kepala. Ia bersumpah dan bertekad untuk membalaskan dendam Shiva.

"Katakan kepadaku mengapa kau di sini.""Berjanjilah kau tak akan membunuhku.""Aku tidak bisa melakukan itu.""Kalau begitu tak ada lagi yang bisa kukatakan." Khalid dan Shahrzad, hlm. 80.

Keputusan Shahrzad juga didengar oleh cinta pertama Shahrzad, Tariq Imran al-Ziyad. Mendengar hal tersebut, Tariq bertekad untuk membebaskan Shahrzad. Apapun yang terjadi. Satu-satunya cara yang menurut Tariq berhasil adalah, dengan menggulingkan kekuasaan Khalid. 

Kehidupan Shahrzad yang awalnya tervonis satu malam, berhasil terselamatkan karena kisah-kisah yang diceritakan Shahrzad kepada Sang Khalif. Tanpa sadar, kisah-kisah tersebut pun mulai membuat Shahrzad mendalami siapa Khalid. Meskipun pada akhirnya, banyak sekali rahasia yang disimpan oleh Khalid. Hingga akhirnya, kebenaran dan rahasian pun terungkap. Rahasia yang pada akhirnya membuat Shahrzad mengerti, beban berat yang harus dipikul oleh Khalid. Beban yang melibatkan seluruh rakyat Rey.

"Lakukanlah dengan lebih baik, Shazi. Permaisuriku tak punya keterbatasan. Tak ada batas dalam segala tindakannya. Tunjukkanlah kepada mereka." Khalid, hlm. 222.

Tidak Sekadar Fantasi
Baiklah. Kalau boleh jujur, membaca novel ini merupakan bentuk perwujudan rekomendasi dari yang meminjamkan aku novelnya. *makasih, Uji :D. Iyaah, sayah kemarin malakin novel ke Uji dan Uji ngasih saya duologi ini. Kalau soal penasaran, aku penasaran sih dengan novel ini. Bagaimanapun, nove ini seliweran di timeline aku di tahun kemarin. Bumbu-bumbu kisah seribu satu malam membuatku penasaran pada akhirnya. Tapi, bukan berarti aku punya ekspektasi sepenuhnya terhadap novel ini. Maksudku, yaa, aku nggak mengharapkan fantasi yang banget-banget. Dan ternyata benar. Kisah roman-nya lebih banyak disinggung di sini.

Sumber gambar: Wallco, disunting oleh Puji.
Menurtku, Renee Ahdieh di buku pertama ini lebih menjelaskan bagaimana perkembangan dari hubungan Khalid dan Shahrzad--Ya Tuhan! Ini namanya susah banget untuk dihafal :( Jadi, keseluruhan unsur fantasi dalam kisah ini masih belum terlalu kelihatan. Eh, tapi, bukan berarti aku protes, ya. Bagaimanapun, aku memang pecinta roman. 

Hem, tapi munkin, untuk pembaca yang mengharapkan novel ini penuh dengan buliran-buliran fantasi, jangan terlalu berharap. Heuheu. *ehh, aku nggak bermaksud mendemotivasi kalian untuk membaca novel ini, ya. Karena, menurutku, nggak fantasi-fantasi banget, ah. Roman-nya yang kuat di buku pertama ini. Kalau yang kedua sih, aku belum tahu.

Alurnya yang ...  Mengalir
Selama aku membaca The Wrath and the Dawn, aku merasa kalau alurnya cepat. Ehm, maksudku, tiba-tiba saja sudah dua minggu berlalu. Tiba-tiba saja sudah beberapa hari. Perubahan yang terjadi terlihat tidak terlalu terasa dan penjelasan detail dari suatu kejadian terkadang terlalu detail. Haha. Jadi, aku merasa aneh saja saat membacanya. Jadi berasa ada yang loncat-loncat. Ohh, ya. Meskipun memakai sudut pandang orang ketiga, fokus dari Renee Ahdieh adalah sudut pandang Shahrzad. Jarang sekali Renee menggambarkan dari sudut pandang Khalid. Padahal kan aku kepo juga sama Khalid. Meskipun aku nggak terlalu tertarik juga sama tokoh ini. *digampar.

Selain Khalid, Shahrzad, dan juga Tariq, ada pula tokoh lain seperti Despina--dayang Shahrzad--dan juga Jalal--sepupu Khalid. Aku yakin, di buku kedua pasti kisah dua orang ini akan muncul. Hoho. Oh, iya. Harus kuakui pula kalau kisah di buku pertama ini berakhir menggantung. *Untung Uji minjemin langsung dua buku. Jadi, aku nggak bakal kepo kelanjutannya. 

Kesimpulan
Menurutku, novel ini pas kok untuk dibaca oleh pembaca fantasi  yang menyukai cerita yang ringan. Mungkin akan sedikit membuat penasaran mengenai rahasia yang disimpan oleh Khalid. Hoho. Lalu, sebagai pecinta roman, kalian akan dimanjakan oleh hubungan Khalid-Shahrzad yang pada akhirnya akan membuat kalian trenyuh.

So, three point five stars for The Wrath and the Dawn.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

Catatan tipografi:
"...Kedua, Khalid tak boleh tahu kalau aku ikut andil dalam dalam pelanggaran ini." --hlm. 59.
"...Dia pergi saat masih gelap."Tariq memasang anak panah... --hlm. 137.
"Karena kau berbagi ranjang dengan Khalif Khoasan." --hlm. 206.
"...Jadi aku mengatkannya dengan benda, bukan orang." --hlm. 254.
Shamsir-nya terjatuh ke lantai pualam dengan buyi tajam. --hlm, 350.
"...tetapi Anda tidak mengeti." --hlm, 380.
"Kebecian. Prasangka. Ganjara. ..." --hlm. 401.
...saat orang-orang yang ketakutan mulai menjeri dan melarikan diri...--hlm. 422.
"Bawa aku padanya."Tanpa menunggu jawaban, --hlm. 438.

Ps. Tidak semuanya tercatat ya. Puji kan lieur juga nyatetnya. Hehe.

4 comments:

Hanafiah,

Resensi: Imaji Terindah - Sitta Karina

Saturday, June 17, 2017 Puji P. Rahayu 4 Comments


Imaji Terindah
Apakah kemudian seorang laki-laki tidak boleh menangis?

oleh Sitta Karina

3.5 dari 5 bintang

Sumber gambar: Goodreads.
Judul: Imaji Terindah
Genre: Roman
Penulis: Sitta Karina
Seri: Hanafiah #1.5
Penyunting: Siti Nur Andini
Penata Letak: Rizal Rabas
Desainer Sampul: Sitta Karina
Foto Sampul Muka: Andra Alodita
Tahun Terbit: Desember 2016, Cetakan 1
Penerbit: Literati, imprint dari Penerbit Lentera Hati
Tebal Buku:290 halaman
ISBN: 978-602-8740-60-9
Buntelan dari  penulis, Sitta Karina.


“Jangan jatuh cinta kalau nggak berani sakit hati.”
Tertantang ucapan putra rekan bisnis keluarganya pada sebuah jamuan makan malam, Chris Hanafiah memulai permainan untuk memastikan dirinya tidak seperti yang pemuda itu katakan.
Dan Kianti Srihadi—Aki—adalah sosok ceria yang tepat untuk proyek kecilnya ini.
Saat Chris yakin semua akan berjalan sesuai rencana, kejutan demi kejutan, termasuk rahasia Aki, menyapanya. Membuat hari-hari Chris tak lagi sama hingga menghadapkannya pada sesuatu yang paling tidak ia antisipasi selama ini, yakni perasaannya sendiri.


Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Suatu ketika, seorang teman pernah bertanya padaku, "Puj, menurutmu, apakah seorang cowok itu nggak boleh baper?". Belum sempat aku menjawab pertanyaan itu, temanku yang lain langsung menyambar, "Kalau Puji sih anaknya HAM banget. Jadi, pasti menurut dia nggak apa-apa kalau cowok baper." Aku tersenyum singkat kala itu. Ya, memang. Aku adalah orang yang berusaha sebisa mungkin menghargai perasaan orang lain. Kalau ada yang mengatakan bahwa seorang laki-laki tidak boleh terbawa perasaan dan mudah emosi. Padahal, menurutku itu adalah sifat alamiah manusia, regarding seseorang itu perempuan maupun laki-laki. Setidaknya, dalam Imaji Terindah, ada satu poin mengenai hal ini yang disinggung. Intinya adalah, seorang laki-laki pun, berhak untuk menangis. Bagaimanapun, itu bukanlah suatu kelemahan yang dimiliki oleh laki-laki tersebut. Akan tetapi, itu adalah satu-satunya cara saat seseorang tidak sanggup lagi menerima kenyataan dalam hidup.

Sekilas Kisah
Bagi Christopher Hanafiah, cinta bukanlah satu hal yang ada di pikirannya selama ini. Mengambil prinsip hidup sepupunya, Reno Hanafiah, Chris menjadi seorang womanizer--atau setidaknya berkeinganan demikian. Suatu ketika, rumah Chris kedatangan tamu dari Jepang, yakni Keluarga Kaminari. Terlahir di keluarga yang kaya raya seperti Hanafiah tidak membuat Chris dapat menikmati keseluruhan tetek-bengek jamuan makan bersama rekan bisnis keluarganya. Terlihat jelas kebosanan Chris dalam jamuan makan bersama Keluarga Kaminari. Sampai pada akhirnya, Kei Kaminari menyentil Chris dengan cukup kuat. Semua ini berawal dari ucapan Kei, "Jangan jatuh cinta kalau nggak berani sakit hati." 
"Kita masih muda; banyak hal--dan kejutan--bisa terjadi.""Kejutan nggak selalu menyenangkan.""Tergantung bagaimana kita meresponsnya." -- Chris dan Aki, hlm. 54.
"Sayangnya, tidak demikian bagi kamu. Entah kenapa... kamu menjauh. Kamu ngobrol sama Alde dan lainnya, tapi selalu menghindari aku. Pacar bisa kayak gitu. Tapi, kita sahabat. Dan sahabat selalu bicara dari hati ke hati, bukan kabur melulu, apalagi pas ada masalah." -- Aki, hlm. 124. 
Sebagai seseorang yang tidak pernah memikirkan cinta, Chris pun mencari target untuk memulai permainan dan memastikan dirinya tidak seperti yang Kei katakan. Target tersebut akhirnya jatuh pada Kianti Srihadi atau yang biasa dipanggil Aki--seorang murid baru pindahan dari Jepang. Aki adalah sosok ceria yang aktif dalam cheers. Sejak pertama, Chris sudah tertarik pada Aki. Akan tetapi, setelah berbagai kejadian yang menimpa keduanya, Chris menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan perasaannya. Lama-lama, ia menyadari bahwa ia tidak akan sanggup kalau sampai kehilangan Aki. 

Aku dan Hanafiah
Kalau boleh aku jujur, ini adalah pertama kalinya aku membaca seri Keluarga Hanafiah. Harus kuakui bahwa, seri Keluarga Hanafiah ini sepertinya dapat menjadi sei favoritku. Eugh, bagaimanapun roman menye-menye seperti ini akan tetap menjadi favoritku. Aku jatuh cinta dengan cara Sitta Karina menceritakan Hanafiah. Penggambaran mengenai kekayaan mereka menurutku tidak terlalu tersebar kemana-mana. Meskipun, merek-merek branded masih banyak disebut. But, it's okay. Aku masih mampu menikmatinya.

Oh ya, sepertinya aku harus meminta maaf dulu pada Kak Sitta. Mengapa? Karena, aku baru bisa membaca dan meresensi Imaji Terindah sekarang. Seharusnya, Imaji Terindah sudah bisa kubaca sejak Februari lalu. Akan tetapi, karena adanya suatu kesalahpahaman, akhirnya novel ini tertahan di Malang, sedangkan aku ada di Depok :o Yaa, but I assume that, it's totally my fault. 

Tampilan yang Cantik
Dari penampilannya sendiri, aku suka konsep sampulnya. Sederhana dan juga, apa ya? Collect-able? Iya, sort of kayak gitu. Menurutku, sampul dari Imaji Terindah ini begitu cantik dan menyenangkan untuk dilihat. Tidak terlalu ramai tapi eye-catching. Akan tetapi, ada satu hal yang cukup kusayangkan. Entah mengapa, aku merasa margin yang digunakan terlalu lebar. Sehingga, novel ini terasa cepat habis untuk dibaca. Meskipun demikian, secara pilihan font aku suka. 


Opini Pribadi
Ahh, rasanya sudah lama sekali aku tidak membaca novel roman Indonesia. Entahlah. Akhir-akhir ini aku kebanyakan membca novel terjemahan maupun Inggris. Mungkin aku sedang tidak berminat saja waktu kemarin. Nah, akhirnya, sampailah aku untuk membaca Imaji Terindah. Bagiku, Imaji Terindah adalah kisah unyu-unyu yang menyenangkan. Awalnya, aku tidak menyangka kalau Imaji Terindah lebih ke Young Adult. Kupikir, tema yang dibawa adalah mengenai pekerja kantoran, layaknya novel-novel roman sejenis. Tapi, bukan berarti aku protes ya mengenai ini. Toh, aku masih menikmati keseluruhan cerita.
"Terima kasih, ya, Chris. Kamu benar-benar nggak pergi. Kamu bahkan tetap bercanda dan semangat, menginspirasi aku untuk melakukan yang sama. Secara nggak langsung, kamu kayak ngingetin aku, bahwa hidup itu dibawa gampang, tapi jangan ngegampangin hidup. You know, I like that!" -- Aki, hlm. 130.
 "Kalo elo punya niat baik dan ingin melakukan sesuatu yang baik, lakukan. Nggak perlu umbar dengan kata-kata. Perbuatan sudah cukup jadi bukti yang jelas," -- Niki, hlm. 142.
Namun demikian, bukan berarti aku tidak merasa ada yang aneh dalam cerita ini. Aku merasa, proses kedekatan antara Chris dan Akit terlalu cepat. Entahlah. Aku merasa kedua orang ini terlalu cepat percaya dan luluh. Lalu, aku baru tahu kalau dalam seri Hanafiah, akan ada orang-orang yang punya kemampuan tertentu. Jujur saja, itu sedikit membuatku merasa aneh. Well, sedikit ya. Lagi-lagi, bukannya aku protes.

Oh ya, selain Imaji Terindah, dalam novel ini terdapat dua cerita pendek lagi, yakni Sakura Emas dan juga Air Mata Pedang. Berhubung aku belum membaca seri Hanafiah, aku tidak tahu kedua cerita ini pada akhirnya akan mengarah kemana. Akan tetapi, di satu sisi, cerita pendek ini berhasil membangkitkan kekepoanku terhadap seri Hanafiah.
"People are always curious about other people's business. Especially about Prince Christopher's."-- Aki, hlm. 157.
"Friends... don't kiss."
"Who said we're just friends? Kita lebih dari itu, Ki." -- Aki dan Chris, hlm. 193.
Selain itu, mungkin banyak yang akan protes terhadap akhir dari kisah Chris dan Aki. Aku pun, mungkin demikian. Meskipun aku tidak sampai sakit hati karena akhirnya begitu, aku cukup tergugah untuk mbrebes mili. Rasanya seperti tidak rela akhir kisah manis Chris dan Aki harus seperti itu.
"Apa, sih, yang ingin elo kasih liat ke Kianti? You can't protect her forever, Chris. Orang pesakitan kayak dia--she doesn't even have forever!"
"She is my forever!" -- Laila dan Chris, hlm. 196.
 "Orang yang tidak menyerah terhadap persahabatan yang sudah porak-poranda, apalagi namanya kalau bukan pahlawan terhadap persahabatan itu sendiri?" -- Aki, hlm. 241-242.
Kesimpulan
Sebagai pecinta roman, aku akan merekomendasikan novel ini sebagai pilihan untuk mengisi waktu luang. Mungkin akan terasa seperti cerita cinta remaja yang menye-menye. Akan tetapi, aku melihat ada sisi lain yang dicoba ditunjukan oleh Sitta Karina. Pada intinya, novel ini masih worth it to read, kok.
"Build a friendship before marrying someone. Then, marry your best friend." -- Chris, hlm. 246-247.
3.5 bintang untuk Chris dan Aki.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

4 comments:

Becky Albertalli,

Resensi: Simon vs. the Homo Sapiens Agenda - Becky Albertalli

Wednesday, June 14, 2017 Puji P. Rahayu 0 Comments

Simon vs. the Homo Sapiens Agenda
Memangnya, siapa yang menentukan apa itu normal dan tidak?

oleh Becky Albertalli


3 dari 5 bintang

Sumber gambar: Goodreads
Simon vs. the Homo Sapiens Agenda
Genre: Young Adult
Penulis: Becky Albertalli
Penerjemah: Brigida Ruri
Penyunting: Selsa Chintya
Proofreader: Seplia
Desain Sampul: Marla Putri
Penerbit: Penerbit Spring
Tahun Terbit: Desember 2016
Tebal Buku: 324 halaman
ISBN: 978-602-60443-0-3
Pinjam dari Fitrandi Fauzi
Gara-gara lupa me-logout akun E-mailnya, Simon tiba-tiba mendapatkan sebuah ancaman. Dia harus membantu Martin, si badut kelas, mendekati sahabatnya, Abby. Jika tidak, fakta bahwa dia gay akan menjadi urusan seluruh sekolah.

Parahnya lagi, identitas Blue, teman yang dia kenal via E-mail akan menjadi taruhannya.
Tiba-tiba saja, kehidupan SMA Simon yang berpusat pada sahabat-sahabat dan keluarganya menjadi kacau balau.

Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Tidak ada hal yang lebih sulit untuk dilakukan daripada saat kamu dianggap berbeda dan "tidak normal". Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, siapa yang mendefinisikan apa itu normal dan tidak? Pada akhirnya, hal-hal seperti inilah yang membuat seorang gay tidak memiliki keberanian untuk coming out. Mengapa? Mereka takut tidak dapat diperlakukan sama dengan yang lain hanya karena memiliki identitas gender yang dianggap "tidak biasa". Padahal, sejauh pemahamanku, seseorang seharusnya bisa mendapatkan haknya. Tidak peduli ia adalah seorang hetero, gay, lesbian, atau lainnya. Toh, pada akhirnya mereka adalah manusia. Manusia yang sama-sama punya hak untuk memperjuangkan hidupnya.

***

Simon Spier. Seorang pelajar di Shady Creek. Mungkin kalian akan melihatnya sebagai seorang pemuda yang biasa-biasa saja. Dia sering menghabiskan waktunya bermain dengan ketiga sahabatnya, Abby, Leah, dan Nick. Selain itu, dia juga aktif di kelas drama bersama Abby. Hidup Simon biasa-biasa saja. Terlahir sebagai anak tengah dari keluarga yang unik, membuat Simon memiliki kepribadian yang cukup bijaksana--meskipun tidak dapat dikatakan sepenuhnya demikian. Akan tetapi, di balik sikap Simon yang biasa itu, ia menyimpan rahasianya sendiri. Ya, Simon adalah seorang gay. Dan semenjak beberapa bulan yang lalu, ia menjalin korespondensi melalui surel dengan seseorang bernama, Blue. Bagi Simon, Blue telah menjadi sosok yang begitu menarik. Berbagai cerita saling mereka bagikan, dan tentunya, Simon merasa kalau ia mulai menyukai Blue.
Tapi aku capek mencoba terbuka. Semua yang sudah kulakukan adalah menjadi terbuka. Aku mencoba tidak berubah, tapi aku terus berubah, di setiap langkah kecilku. -- Simon, hlm. 62.
Siapa Blue? Simon sendiri pun tidak mengetahuinya. Alamat surel yang didapat oleh Simon pun berasal dari situs Tumblr yang menjadi sumber gosip di Shady Creek. Awalnya, Simon merasa bahwa surel yang ia kirim tidak akan pernah terbalas, nyatanya setelah lama menunggu, Blue membalas dan akhirnya terjalinlah korespondensi tersebut. Yang menjadi permasalahan kemudian adalah, saat Simon dengan teledornya lupa me-log-out akun surelnya di komputer sekolah. Alhasil. Martin Addison, seseorang yang sering kali dijuluki sebagai badut sekolah, mengambil screenshoot dari percakapan surel antara Simon dan Blue. Sejak saat itu, kehidupan Simon menjadi tidak sama lagi.
Mungkin dia adalah pemerasku. Mungkin dia juga mulai menjadi temanku. Siapa yang tahu kalau yang seperti itu bisa terjadi.--Simon, hlm. 131.
The quote

Well
, secara tegas aku harus bilang bahwa aku samasekali tidak resisten dengan tema yang diambil oleh Becky Albertalli. Bahkan, menurutku, seharusnya buku-buku dengan tema sejenis lebih diperbanyak lagi. But I know, sentimen di negara ini kan cukup kuat. Mungkin, kalau tidak ada label dewasa yang disematkan di sampul belakangnya, buku ini akan dilarang untuk diedarkan. Yeah, you know, those fanatic-religious-groups would be very angry because of this.

So, aku sangat mengapresiasi Penerbit Spring yang mau dan berhasil menerbitkan buku dengan tema berpayungkan LGBT. Mungkin kalian bertanya mengapa aku seperti biasa saja membahas mengenai identitas gender seperti ini. Hem, jujur saja, aku sudah menemui orang-orang dengan identitas gender tersebut di dunia nyata. Aku juga tahu bagaimana kesulitan-kesulitan yang terkadang mendera mereka. Akhirnya, aku pun tidak resisten terhadap mereka. 
Sudah pasti menyebalkan karena heteroseks adalah apa yang dianggap default. Dan juga karena hanya orang-orang yang meragukan identitas mereka--yang tidak cocok dengan identitas standar--saja yang harus memikirkan hal itu.--Blue, hlm. 158.
Baiklah. Mari kita masuk ke pembahasan mengenai Simon. Ahh, harus kuakui, "oknum" yang meminjamiku buku ini pun belum membacanya. Jadi, aku tidak tahu mengapa aku berminat membacanya. Mungkin dari sampulnya? Bisa jadi. Menurutku, sampul dari Simon vs. the Homo Sapiens Agenda ini cukup berwarna dan enak dipandang. Aku suka konsepnya. 

Kemudian, aku juga suka cara bercerita Becky. Ia menggunakan sudut pandang pertama. Sehingga, aku bisa memahami keseluruhan perasaan Simon. Bagaimana galaunya masa remaja, hingga kebimbangan Simon untuk coming out. Sayangnya, aku merasa bosan saat membaca buku ini. Entahlah. Ataukah mungkin karena aku lama tidak membaca buku terjemahan? Aku juga tidak tahu. Yang pasti, aku merasa alur dari buku ini cukup lambat. Satu-satunya hal yang membuatku tetap membaca buku ini adalah identitas Blue yang sebenarnya. Ya. Aku penasaran dengan siapa Blue. Aku sudah memperkirakan kalau akan ada plot twist yang disajikan. Menurutku, upaya Becky untuk itu cukup berhasil.

Bagiku, membaca buku seperti Simon ini membuatku lebih memahami mengenai identitas gender lebih jauh. Aku bisa lebih mengerti mengapa seseorang yang merasa tidak normal, hidupnya menjadi tidak mudah. Ahh, padahal, apa yang dimaksud dengan normal hanyalah konstruksi yang dibangun oleh masyarakat. Oh, aku yakin pasti akan ada orang-orang yang memprotes keseluruhan pendapatku. Yaa, nggak masalah sebenarnya. Toh, pada akhirnya, seseorang punya pemikirannya masing-masing dan juga pembenaran dari pemikirannya tersebut.

Pada intinya, buku ini cukup menarik untuk dibaca.  Akan tetapi, kalau kalian adalah orang-orang bersumbu pendek dan suka menghakimi dari awal, please, go away! Don't try to read this book! 

Pst. Ternyata buku ini akan difilmkan loh. Hem, aku harus berpikir seribu kali sepertinya untuk menonton filmnya. Melihat kebosananku membaca buku ini, agak nggak yakin juga untuk menontonnya. But, we'll see.

Sincerely,

Puji P. Rahayu

0 comments: