Resensi: The Dead Returns - Akiyoshi Rikako

The Dead Returns
"Aku dibunuh oleh teman sekelasku."

oleh Akiyoshi Rikako

4 dari 5 bintang

Image credit: goodreads.com
Judul: The Dead Returns
Penulis: Akiyoshi Rikako
Penerjemah: Andry Setiawan
Genre: Thriller
Tebal buku: 252 halaman
Penerbit: Penerbit Haru
Tahun terbit: 1 Agustus 2015
ISBN: 9786027742574
Beli di TB. Gramedia Tunjungan Plaza, Surabaya


Suatu malam, aku didorong jatuh dari tebing. Untungnya aku selamat.
Namun, saat aku membuka mataku dan menatap cermin, aku tidak lagi memandang diriku yang biasa-biasa saja. Tubuhku berganti dengan sosok pemuda tampan yang tadinya hendak menolongku. 
Dengan tubuh baruku, aku bertekad mencari pembunuhku.
Tersangkanya, teman sekelas.Total 35 orang.Salah satunya adalah pembunuhku.


Informasi lengkap dapat dibaca di:

Membaca Girls in the Dark beberapa waktu lalu pada akhirnya membuat saya penasaran dengan The Dead Returns. Apalagi, sinopsis di belakang buku cukup membuat saya tergugah untuk membaca novel dengan kaver anak laki-laki yang memakai seragam sekolah itu. Awal saya membeli novel ini pun dapat dikatakan tidak sengaja. Ketika saya sedang berjalan-jalan di Tunjungan Plaza, saya dan kenalan saya mampir ke Gramedia untuk membunuh waktu. Pada akhirnya, saya pun tertarik untuk mengambil novel ini.

To be honest, saya sudah membaca novel ini sejak satu bulan yang lalu. Akan tetapi, karena berbagai macam hal, akhirnya saya malah tidak sempat menuliskan ulasannya. Hmm. Memang sulit juga ya menjadi seorang bloger aktif *tutup muka. Nah, alhasil, saya harus jujur, bahwa saya bahkan sudah lupa siapa nama tokohnya. Iya. Saya sedemikian lupanya. Jadi, saya pun harus mengais ulasan orang lain untuk mengingatkan saya siapa nama tokoh dalam novel ini.

Koyama Nobuo. Seorang pelajar yang biasa-biasa saja. Bahkan, mungkin berada di deretan siswa tidak favorit yang suka menyendiri dan dipandang aneh. Suatu malam, Nobuo mendapat ajakan pesan dari seseorang untuk menemui orang tersebut di tebing Miura Kaishoku. Sesaat sudah di tebing tersebut, tiba-tiba saja ada yang mendorong tubuh Nobuo hingga terjatuh. Nobuo merasa ada orang lain pula yang akan menolong dirinya. Ternyata, orang tersebut ikut jatuh. Setelah pengalaman antara hidup dan mati itu, Nobuo pun tersadar. Akan tetapi, sayangnya ia sadar bukan sebagai Koyama Nobuo. Dia telah masuk ke raga Takahashi Shinji, seorang  pelajar yang populer di sekolahnya--dan yaa, saya lupa nama SMA-nya. Heuheu. Seorang anak band yang banyak penggemar dan bahkan punya pacar. Sosok yang jauh berbeda dari sosok Nobuo. Dalam hatinya, Nobuo bertekad untuk mencari siapa pembunuh dirinya. Maka dari itu, Nobuo pun mencoba menyelidiki hal tersebut dengan sosok Takahashi Shinji yang disegani dan disukai semua orang.

Image credit: google, edited by me
Komentara pertama, saya bingung. Iya, saya bingung sebenarnya Koyama Nobuo ini laki-laki atau perempuan, ya? -_- Rasa-rasanya di awal dia digambarkan seperti perempuan. Akan tetapi, di akhir dia terasa sebagai laki-laki. Jadi, intinya saya tidak tahu jenis kelamin dari Koyama Nobuo ini. Atau saya saja yang memang kurang nyambung? Bisa jadi. 

Kedua, saya suka dengan plot twist-nya. Sepertinya ini memang menjadi ciri khas dari Akiyoshi Rikako. Menyelipkan twist yang cukup tidak biasa di akhir. Jujur saja, saya memang tidak bisa menebak siapa pelaku yang sebenarnya. Memang luar biasa sekali kemampuan Akiyoshi memutarbalikkan pemikiran pembaca. Meskipun, hmm, ada beberapa bagian yang rasanya kosong gitu. Atau lagi-lagi, saya yang kurang nyambung?

Ketiga, saya suka dengan tampilannya. Ehh, dalam artian font yang digunakan. Membuat saya tertarik untuk membacanya dan merasa, "yeah, this book is quite fun". Intinya sih, saya suka dengan model dari novel ini. Saya jadi penasaran dengan novel-novel lainnya dari Akiyoshi Rikako--dan Penerbit Haru to some extend.

Oke deh. Pada intinya, kalau kamu ingin membaca novel yang cukup "tidak biasa" dengan berbagai macam bentuk thriller-nya, The Dead Returns bisa menjadi pilihan. Saya yakin, kamu tidak akan menyesal.

4 bintang untuk plot twist yang membuat saya sampai speechless.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

Resensi: Garden Magic - Mita Miranti


Garden Magic
"Cinta itu seperti tanaman, dia hidup karena dipelihara."

oleh Mita Miranti

3 dari 5 bintang

image credit: goodreads.com
Judul: Garden Magic
Penulis: Mita Miranti
Penyunting: Fanti Gemala
Desainer Kover dan Ilustrasi: Rio Siswono
Penata Isi: Putri Widia Novita
Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo)
Tahun Terbit:  Desember 2015
Tebal buku: 202 halaman
Diperoleh dari acara Grasindo Blogtionship 2017


"Cinta itu seperti tanaman, dia hidup karena dipelihara."
Menjadi yatim piatu sungguh tak pernah terbayangkan oleh Iris. Dia juga tak mengira akan bertemu dengan pria menyebalkan, yang membuat hidupnya semakin sulit. Siapa sebenarnya pria itu? Oh, dan berapa banyak sketsa taman yang harus dia buat untuk melupakan masa lalunya? Seandainya cinta dapat menemukan jalannya sendiri, dia ingin meloloskan diri dari pedihnya rasa dikhianati. Dia ingin merasakan kembali indahnya bahagia, seindah bunga kana yang begitu dicintai ibunya. 


Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Sepertinya, sudah agak lama dari terakhir kali saya membuat satu ulasan mengenai novel yang saya baca. Selain karena saya memang diserang reading slump, saya memang merasa tidak bersemangat untuk menuliskan satu resensi tertentu. Seperti bukan saya, ya? Yaa, mau bagaimana lagi. Saya sekarang lebih fokus untuk bermain game. Iya, tolong salahkan Kampung Maifam yang menyita banyak waktu saya.

Baiklah, kali ini saya akan sedikit bercerita mengenai Garden Magic. Saya mendapatkan novel ini ketika mengikuti acara Grasindo Blogtionship 2017 yang diadakan di.. hmmm, kenapa saya lupa namanya, ya? Pokoknya di salah satu kafe yang terletak tak jauh dari Stasiun Sudirman--well, agak memalukan karena saya naik ojek online padahal seharusnya bisa jalan. Dalam perjalan pulang ke Malang, saya memilih untuk membaca novel ini sebagai bacaan ringan. Tentunya, saya tidak ingin berekspektasi apa-apa. Toh, saya hanya ingin sekadar mengembalikan mood saya saja untuk membaca.

Cerita dimulai dari perjalanan Iris yang merintis usahanya dalam bidang dekorasi taman. Ia adalah seorang yatim piatu yang berusaha untuk membuka bisnis sendiri. Kecintaannya terhadap taman dan berbagai tanaman, membuat Iris mendirikan Arum Dalu. Banyak pihak yang memuji kelihaian Iris dalam menyulap taman-taman yang awalnya gersang menjadi indah. Salah satunya adalah Ibu Astari. Dari Ibu Astari inilah ternyata Iris bertemu dengan Wira, sesosok pemuda yang baru pulang dari Amerika dan merupakan anak sulung dari Ibu Astari. 

Entah mengapa, Wira selalu bersikap sinis kepada Iris. Bahkan, cenderung memusuhi. Ternyata, semua sikap Wira tersebut berhubungan dengan kecelakaan beberapa tahun lalu yang menimpa Anggi, adik Wira, dan Aldi, yang kala itu menjadi pacar Iris. Lalu, apa hubungan di antara kejadian tersebut? Mengapa Wira begitu membenci Iris? Bagaimana dengan konflik yang terjadi? Silakan baca sendiri.

Sumber gambar: KSHines, disunting oleh Ra.
Tentunya, novel ini menurut saya adalah novel manis yang bisa dibaca dalam sekali duduk. Konflik yang disajikan tidak terlalu berat dan malah membuat saya tersenyum manis. Membaca novel roman dengan sedikit percik bumbu merupakan salah satu cara saya untuk membangkitkan mood membaca. Selain juga dengan membaca buku anak atau graphic novel. Kalau ditanya apakah konflik dalam novel ini hana sekadar tentang cinta? Tidak juga. Novel ini juga membahas tentang perdagangan dan penculikan hewan peliharaan yang tentunya, tidak banyak diangkat dalam novel lainnya. Yaa, mungkin itu adalah salah satu ciri khas dari novel ini. 

Kalau ditanya kekurangannya, menurut saya, perkembangan chemistry di antara Wira dan Iris menurut saya tidak terlalu dijelaskan. Sehingga, membuat saya bertanya-tanya, "hal apa yang membuat mereka tertarik satu sama lain?" Cukup disayangkan sebenarnya. Tapi, mau bagaimana lagi. Oh, ya. Satu hal yang saya suka dari novel ini adalah kover bukunya yang cukup cantik dan segar dipandang mata. Desainnya yang sederhana tidak terlalu ramai dan enak dilihat.

Jadi, untuk kamu yang ingin membaca bacaan ringan. Garden Magic bisa menjadi salah satu pilihan.

3 bintang untuk Morries, si anjing lucu yang selalu disayangi pemiliknya.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

Refleksi Tahun 2017 dan Harapan Tahun 2018

Halo!

Sudah berapa lama ya saya tidak meng-update blog? Mungkin ada satu bulan saya tidak mengisi blog. Pada dasarnya, saya ingin sedikit menyampaikan uneg-uneg. Tahun 2017 dapat dibilang menjadi tahun yang agak suram bagi saya. Suram di sini dalam artian, saya mengalami reading slump yang luar biasa. Ketika saya akan membaca buku tertentu, terkadang sampai harus benar-benar saya niatkan. Saya pun tidak tahu mengapa bisa sampai demikian. Saya yang memang tidak mood, atau sekadar saya yang mudah terdistraksi hal lain.

Well, kedua hal tersebut nyatanya memang menghiasi hari-hari saya. Hampir setengah tahun ini saya lebih suka bermain game. Ya, saya memang seorang gamer dan saya jatuh cinta pada game yang sedang saya mainkan. Selain itu, saya pun juga melakukan internship di salah satu situs daring menjadi seorang penulis konten. Otomatis, konsentrasi saya banyak terpecah. Lalu, apakah saya menjadi tidak membaca buku? Tentu tidak. Saya tetap suka membaca buku. Saya mengusahakan untuk terus membaca meskipun tidak selalu bisa konsisten. Yang pasti saya mencoba. 

Resolusi saya di awal tahun 2017 lalu sepertinya pun banyak yang gagal. Yaa, saya memang tidak dapat berharap banyak tahun ini akan menjadi lebih baik. Kesibukan saya pasti bertambah karena harus berfokus pada tugas akhir. Akan tetapi, saya percaya saya bisa kembali menjadi diri saya yang memang suka membaca. Toh, membaca bagi saya adalah sebagai bentuk penghiburan diri dan refreshing. 

Jadi, harapan saya untuk tahun 2018 ini adalah, saya bisa menjadi seorang pembaca yang lebih baik lagi. Saya bisa menikmati bacaan saya tanpa perlu khawatir akan berbagai macam hal. Tak perlu pula saya memaksakan membaca bacaan yang saya tidak suka. Cukup membaca apa yang saya ingin.

Oh, ya. Sebagai catatan, saya menemukan salah satu kutipan yang saya sukai di tahun 2017 ini. Ya, saya mengambil kutipan dari Story for Rainy Days milik Naela Ali. Setidaknya, kutipan tersebutlah yang cukup membekas di pikiran saya selama tahun 2017.

edited by me
Untuk segala bentuk resensi mengenai buku yang saya baca, akan saya update secepatnya. Awal tujuan membuat blog ini pun, pada dasarnya karena saya tidak ingin apa yang saya baca mengendap begitu saja di pikiran saya. Jadi, mengapa tidak untuk membaginya dengan orang lain.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

Resensi: Maryam - Okky Madasari


Maryam
"Apa yang diharapkan orang yang terbuang pada sebuah kepulangan?"

by Okky Madasari

4 dari 5 bintang

Sumber gambar: Goodreads
Judul: Maryam
Penulis: Okky Madasari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Ilustrasi sampul: Restu Retnaningtyas
Desain sampul: Marcel A.W.
Tahun terbit: April 2016, cetakan ketiga
Tebal buku: 280 halaman
ISBN: 978-979-22-8009-8
Pinjam dari Perpustakaan Pusat, Universitas Indonesia


Tentang mereka yang terusir karena iman di negeri yang penuh keindahan.

Lombok, Januari 2011

Kami hanya ingin pulang. Ke rumah kami sendiri. Rumah yang kami beli dengan uang kami sendiri. Rumah yang berhasil kami miliki lagi dengan susah payah, setelah dulu pernah diusir dari kampung-kampung kami. Rumah itu masih ada di sana. Sebagian ada yang hancur. Bekas terbakar di mana-mana. Genteng dan tembok yang tak lagi utuh. Tapi tidak apa-apa. Kami mau menerimanya apa adanya. Kami akan memperbaiki sendiri, dengan uang dan tenaga kami sendiri. Kami hanya ingin bisa pulang dan segera tinggal di rumah kami sendiri. Hidup aman. Tak ada lagi yang menyerang. Biarlah yang dulu kami lupakan. Tak ada dendam pada orang-orang yang pernah mengusir dan menyakiti kami. Yang penting bagi kami, hari-hari ke depan kami bisa hidup aman dan tenteram.

Kami mohon keadilan. Sampai kapan lagi kami harus menunggu?

Maryam Hayati


Info lebih lanjut dapat dibaca di:

Selamat datang di Indonesia!

Negara kepulauan yang digadang-gadang menghargai keberagaman suku, ras, dan agama. Negara indah yang dibanggakan karena semangat multikulturalismenya menurun dimana-mana. Negara yang menawarkan kedamaian dan ketenangan bagi siapa saja yang tinggal di sana. Negara yang... pada akhirnya malah mengingkari semua hal yang telah tersebutkan di atas. Negara yang nyatanya tidak benar-benar menghargai perbedaan dan cenderung mendahulukan kepentingan mayoritas. Negara yang pada akhirnya dipertanyakan, apaah benar ada yang namanya "bangsa Indonesia"?

Saya hanyalah seorang pembaca. Pembaca kisah Maryam yang ditulis oleh Okky Madasari. Diceritakan bahwa Maryam memiliki keluarga yang berbeda dari masyarakat kebanyakan. Ia dan keluarganya adalah seorang Ahmadi. Kelompok yang dianggap sesat dan dimusuhi oleh kelompok islam lainnya. Kelompok yang memengaruhi hidup Maryam dari kecil hingga dewasa. Kelompok minoritas yang pada akhirnya tergerus oleh mayoritas. Kelompok yang entah bagaimana kepastian hidupnya.

Dimulai dari kepulangan Maryam ke kampung halamannya, Maryam mencoba untuk menggali masa lalu dan mencari arti penting dari keluarga. Kemudian, meluas pula dengan menemukan cinta kembali. Maryam yang rapuh dan hancur, mencoba untuk kembali membangun hidupnya. Lewat canda, tawa, serta tangis yang dikeluarkan, Maryam akhirnya mengerti, keadilan di negeri ini bukanlah yang benar-benar adil. Hanya kiasan indah yang terus didengungkan oleh para penguasa.

Membaca Maryam, membuat saya diajak untuk melihat dan menelaah lebih dalam, penghargaan perbedaan di Indonesia tidak seindah yang kita bayangkan. Masih ada praktik-praktik main hakim sendiri yang dilakukan oleh mereka, para manusia yang termasuk ke dalam kaum mayoritas. Bukankah, yang sekarang pun demikian? Muncul lagi isu-isu mengenai mayoritas dan minoritas? Siapa yang punya kuasa dan siapa yang dikuasai? Bukankah negeri ini menjadi memilukan?

Sumber gambar: etsy.com
Saya selalu suka dengan cerita-cerita yang ditawarkan oleh Okky Madasari. Ia bisa menjelaskan secara gamblang mengenai realitas sosial yang ada di Indonesia. Ia berani untuk membahas hal-hal yang katanya masih "tabu" dan mengakibatkan ketubiran. Saya sangat menghargai upaya yang dilakukan oleh Ibu satu anak ini.

Selain itu, Okky berhasil menyelipkan makna di balik apa yang ingin sampaikan. Yang pasti, saya meyakini, Indonesia bukanlah negara yang benar-benar memiliki keindahan. Itu hanyalah asumsi yang terus diagungkan padahal belum tentu benar adanya. Padahal, itu masihlah harapan yang tiap hari makin terkikis dengan berbagai permasalahan kesukuan dan keagamaan yang ada.

Well, I know that this review is not like a good review. It's just my thinking and rant about what happened in Indonesia lately. I am sad when the minority have to accept something that really bad because of the majority said so. It is unfair, isn't it? I don't understand why the multiculturalism that is built from a long time ago, have ruined by the egoistic side of some people.

Empat bintang saya sematkan untuk kisah Maryam. Bukankah, terkadang kita memang bisa menjadi orang yang terbuang?

Sincerely,
Puji P. Rahayu

Resensi: Angel's Heart - Luna Torashyngu

Angel's Heart
"Jangan jadi orang terkenal kalau tidak sanggup menghadapi risikonya!"

by Luna Torashyngu

4 of 5 stars

sumber gambar: Goodreads.com
Judul: Angel's Heart
Penulis: Luna Torashyngu
Genre: Teen fiction, romance
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: April 2013 (cetakan pertama tahun 2007)
Tebal buku: 256 halaman
ISBN: 9789792294927
Baca via Scoop


"Jangan jadi orang terkenal kalau tidak sanggup menghadapi risikonya.”

Ungkapan ini pas banget untuk Angel. Di saat kariernya sebagai penyanyi remaja mulai naik dan dia punya banyak fans, masalah mulai mendatanginya. Mulai dari kerepotannya mengatur waktu antara sekolah dan profesinya sebagai penyanyi, disirikin cewek lain yang merasa kalah populer, dimusuhin teman-teman satu sekolah gara-gara batal tampil di pensi sekolah, sampai kerepotan menghadapi wartawan gosip yang mencari tahu tentang kehidupan pribadi dan masa lalu keluarganya. Semua itu bikin dia stres!

Tapi masalah Angel yang terbesar adalah masalah “hati”. Dia penasaran banget sama Rivi, cowok misterius di sekolah yang gayanya kayak preman terminal tapi ternyata pintar main biola. Cowok itu kadang-kadang bersikap baik dan penuh perhatian pada Angel, tapi nggak jarang juga bikin Angel bete dan kesal setengah mati!

Info lebih lanjut:

Selalu ada alasan di balik mengapa aku kembali membaca teenlit. Apalagi, ini jatuhnya re-read. Aku punya alasan, karena aku merindukan novel ini. Kalau tidak salah ingat, Angel's Heart merupakan salah satu novel yang membuatku mulai menyukai membaca novel. Angel's Heart juga merupakan novel yang pertama kali membuatku menangis. Iya, aku merasa kok, in some way, aku receh banget karena bisa menangis karena novel teenlit.

Angel adalah penyanyi yang sedang naik daun. Albumnya terjual dengan sangat laris dan dia pun menjadi populer di kalangan para anak muda. Ia punya sahabat yang selalu mendukungnya, Vera. Akan tetapi, yang namanya selebriti, tidak mungkin hidupnya akan mudah. Berbagai macam rintangan dihadapi oleh Angel. Mulai dari percek-cokan dia dengan salah seorang penyanyi senior, ketidakhadiran Angel dalam acara pensi sekolah, hingga gosip mengenai masa lalu Angel. Yang pasti, hidup jadi orang terkenal itu nggak selamanya menyenangkan.

Nah, belum lagi, Angel pun juga harus terlibat dengan masalah percintaan remaja. Mulai dari Decky, teman Angel yang berusaha banget supaya bisa jalan sama Angel, hingga Rivi, cowok misterius yang bisa membuat Angel terbius karena permainan biolanya. Pokoknya, hidup Angel semakin penuh warna, deh. Mulai dari senang, hingga susah. 

sumber gambar: pinterest, disunting oleh saya
Baiklah. Aku sangat menyadari kalau novel ini tidaklah sesempurna novel Luna Torashyngu lainnya. Akan tetapi, aku jatuh cinta banget sama Angel's Heart. Aku juga heran kenapa aku masih bisa nangis waktu baca novel ini :( It was really silly. Mungkin, akunya aja yang memang lagi sensitif. Jadi, gampang banget nangis. Aku suka cara Luna mengaitkan berbagai peristiwa yang dialami oleh para tokohnya. Meskipun terkesan ada yang mengada-ada, I don't mind. Aku mencoba memaklumi :" Yaa, ini subjektif sebenarnya. Bagaimanapun, novel ini adalah novel yang sangat berkesan bagiku. 

Oh, ya. Selain itu, menurutku pesan yang ingin disampaikan pun cukup jelas. Bagaimanapun hidup kita nantinya, yang pasti, kejujuran dan juga usaha untuk meraih mimpi itu penting. Tidak akan ada yang bisa mengalahkan hal tersebut.

Baiklah, sepertinya singkat saja untuk resensiku kali ini.

4 bintang untuk nyanyian Sang Bidadari.
Sincerely,
Puji P. Rahayu