Resensi: The Rose and the Dagger - Renee Ahdieh


The Rose and the Dagger
Beberapa rahasia lebih aman berada di belakang kunci.

oleh Renee Ahdieh


3 dari 5 bintang

Sumber gambar: Goodreads
Judul: The Rose and the Dagger
Seri: The Wrath and the Dawn #2
Penulis: Renee Ahdieh
Genre: Fantasi, Young Adult, Romance
Penerjemah: Mustika
Penyunting: Katrine Gaby Kusuma
Penata letak dan perancang Sampul: Deborah Amadis Mawa
Penerbit: POP (Imprint dari KPG)
Tahun terbit: 2016
Tebal buku: viii+486 halaman
ISBN: 978-602-242-418-03
Pinjam dari Fitrandi Fauzi

Khalid Ibnu al-Rashid, Khalif Khorasan yang berusia delapan belas tahun, adalah seorang monster. Itulah yang awalnya dikira Shahrzad. Ketika berusaha mengungkap rahasia suaminya itu, Shahrzad justru menemukan sosok luar biasa yang dia cintai sepenuh hati. Namun sebuah kutukan yang terus mengancam membuat Shazi dan Khalid harus berpisah.
Kini Khalifa Khorasan berkumpul kembali dengan ayah dan adiknya. Mereka berlindung di perkemahan padang pasir, tempat berkumpulnya pasukan untuk menggulingkan Khalid—pasukan yang dipimpin oleh Tariq, cinta pertama Shahrzad. Terjebak di antara kesetiaan kepada dua kubu yang sama-sama dia sayangi, Shazi diam-diam menyusun rencana untuk menghentikan perang dengan melibatkan sihir yang mengalir dalam darahnya. Dan Shahrzad akan mempertaruhkan apa pun untuk menemukan jalan kembali kepada cinta sejatinya….
Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Menjadi seorang pemimpin dalam tatanan struktur monarki bukanlah hal yang mudah. Meskipun takhta dalam sebuah kerajaan berdasarkan keturunan, nyatanya tidak menjamin setiap orang dapat mempercayai kemampuan dan kapabilitas dari pemimpin tersebut. Bayang-bayang pemimpin sebelumnya akan terus membayangi. Menjadi pemimpin Khorasan memang tidak mudah bagi Khalid. Apalagi dengan kenyataan bahwa ia mendapat kutukan yang tidak bisa ia bagikan pada orang lain, membuat Khalid semakin tidak dipercaya oleh rakyatnya sendiri.

"Percayalah apa yang kau pilih untuk percayai. Tapi tetap saja, buktinya berdiri di hadapanmu." Shahrzad, hlm. 52
Sepenggal Cerita
Semenjak serangan yang dilancarkan di Rey, Shahrzad tinggal di padang gurun bersama dengan Tariq dan suku Badawi. Di sana pula, Ayah Shahrzad--Jahandar, dirawat. Adik Shahrzad, Irsa, juga tinggal di tempat itu. Di sana pulalah, Shahrzad mulai mengetahui kekuatan yang tersimpan dalam dirinya. Di lain sisi, Khalid menyadari bahwa peperangan di Khorasan tidak dapat terhindarkan. Perselisihan dengan pamannya--Sultan Parthia, semakin memperumit keadaan. Belum lagi, kutukan yang masih menjadi beban Khalid masih belum dapat disembuhkan.

"Tapi jika kau bertanya kepadaku, cara terbaik untuk terbang adalah dengan memotong tali yang mengikatmu ke tanah..." Shiva, hlm. 68.
"Ketika aku berada di padang gurun, aku bangun setiap hari dan melanjutkan hidupku, tapi itu bukan hidup; aku hanya ada. Aku ingin hidup. Kaulah tempatku hidup." Shahrzad, hlm. 202
Dalam buku kedua ini, cerita mulai fokus pada kutukan Khalid dan juga kemungkinan perang antara Khorasan dan juga Parthia. Kisah romansa dari para tokoh pun mulai terlihat. Antara Khalid-Shahrzad-Tariq, Irsa dan Rahim, hingga Despina dan Jalal. Hemm. Baiklah. Aku sangat menyadari kalau novel ini pada akhirnya memang novel roman yang terbalut fantasi.

Resensi The Rose and the Dagger oleh Puji P. Rahayu
Sekelumit Pendapat
Entahlah. Setelah aku menyelesaikan membaca novel ini--yang membutuhkan waktu hampir dua minggu lebih, aku merasa kosong. Dalam artian, tidak banyak yang dapat kuingat saat membaca buku bersampul biru ini. Entah karena aku sedang tidak mood membaca atau bagaimana. Yang pasti, aku merasa tidak terlalu sreg saat membacanya.

Oh, bukan berarti aku tak menyukai ceritanya, ya. I means, aku masih penasaran dengan akhir ceritanya. Sejak buku satu pun, aku sudah penasaran dengan kelanjutannya. Yaa, itu sebenarnya karena banyak banget celah yang ada di buku satu. Jadinya, aku berharap kalau di buku dua akan ada penjelasannya. Nyatanya... aku kurang puas dengan penjelasan di buku dua :( Menurutku banyak missing link dalam ceritanya. Bahkan, aku merasa kalau penyelesaian konfliknya... yaaa... gitu-gitu aja. Kurang seru. *digampar. 

"Ketika kita dihadapkan kepada ketakutan tergelap, tidak bertindak adalah pilihan bagi mereka yang lemah atau putus asa. Selalu ada sesuatu yang dapat dikatakan atau dilakukan. Meskipun kata-kata--"
"Hanyalah goresan di atas kertas." Musa dan Khalid

Kesimpulan
Terlepas dari ketidak-sreg-anku terhadap buku ini, aku masih merasa kalau duologi The Wrath and the Dawn masih worth to read. Disclaimer aja, sih. Jangan terlalu berharap fantasinya akan meluber-luber, ya. Aku masih merasa duologi ini memang banyak romans-nya. Hoho.

"Jadilah awal dan akhir, Shahrzad al-Khayzuran. Jadilah lebih kuat dari segala sesuatu di sekitarmu." Rajput, hlm. 393
3 bintang untuk kisah 1001 malam yang menawan ini.

Sincerely,

Puji P. Rahayu

Resensi: Pasung Jiwa - Okky Madasari


Pasung Jiwa
Kita mungkin punya kehendak bebas. Mungkin. Tapi toh pada akhirnya, ada yang membatasi segala kehendak yang kita miliki itu.

oleh Okky Madasari

4 dari 5 bintang

Sumber gambar: Goodreads
Judul: Pasung Jiwa
Penulis: Okky Madasari
Desai sampul: Rizky Wicaksono
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Mei, 2013
Tebal buku: 328 halaman
ISBN: 978-979-22-9669-3
Baca via iJakarta


Apakah kehendak bebas benar-benar ada?Apakah manusia bebas benar-benar ada?
Okky Madasari mengemukakan pertanyaan-pertanyaan besar dari manusia dan kemanusiaan dalam novel ini.
Melalui dua tokoh utama, Sasana dan Jaka Wani, dihadirkan pergulatan manusia dalam mencari kebebasan dan melepaskan diri dari segala kungkungan. Mulai dari kungkungan tubuh dan pikiran, kungkungan tradisi dan keluarga, kungkungan norma dan agama, hingga dominasi ekonomi dan belenggu kekuasaan.

Info lebih lanjut dapat dibaca di:

Pernahkah kalian memikirkan, apakah kehendak bebas itu benar-benar ada? Memang dikatakan kalau Hak Asasi Manusia merupakan hak yang melekat karena kita adalah manusia. HAM merupakan satu hal yang universal dan dimiliki oleh setiap orang, dimanapun mereka berbeda. Adanya HAM seolah-olah menjamin bahwa kebebasan seseorang dalam berlaku dan bertindak dapat terjadi. Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, apakah setiap keputusan yang kita ambil, tindakan yang kita lakukan, murni pengejawantahan dari kehendak bebas yang kita miliki? Apakah benar, kita ini memiliki kehendak bebas? Bukankah pada akhirnya keseluruhan keputusan yang kita ambil dan tindakan yang kita lakukan merupakan hasil kontemplasi dari batasan-batasan yang ada dalam masyarakat? Batasan-batasan yang tanpa sadar telah mengekang kehendak bebas kita.

Tak pentinglah bagaimana orang memanggilku. Karena aku tetaplah aku. Tak peduli bagaimana wujudku, aku tetaplah aku. -- hlm. 56 

Sepenggal Cerita
Sasana dan Jaka Wani. Dua orang yang berasal dari latar belakang yang berbeda. Akan tetapi, dapat bertemu dan saling bekerja sama untuk mencapai keinginan terdalam mereka, bebas sebagai seorang manusia.

Bagi Sasana, musik dangsut merupakan bentuk kebebasan yang ia inginkan. Sejak kecil. orang tuanya menginginkan Sasana untuk belajar musik klasik. Kursus piano setiap dua minggu sekali membuat Sasana dapat menghafal berbagai komposisi gubahan Mozart, Bach, dan lainnya. Meskipun terlihat Sasana menguasai semua hal dalam hidupnya--baik dalam bermusik maupun prestasi akademik, Sasana menyadari, jiwanya berontak. Ia tak tahan harus berpura-pura menyukai hal yang tak ia sukai. Suatu ketika, Sasana tak sengaja mendengarkan musik dangdut dari kampung di belakang rumahnya. Sejak saat itu, Sasana menyadari bahwa dirinya ingin bebas. Bebas dari segala tuntutan yang dilayangkan padanya.

Tempat ini akan menyelamatkanku dari ketidakwarasan. Ini tempat pembebasan. Bebas dari ketakutan, bebas dari kesintingan. Saat semua yang sinting adalah normal, saat kewarasan adalah keanehan. Apa yang tak boleh kulakukan di sini? Aku sedang tidak waras.

Jaka Wani atau yang sering dipanggil Cak Jek hanyalah seorang pengamen biasa. Bersama dengan Sasa, Cak Jek berusaha menunjukkan kecintaannya terhadap musik. Tak ia pedulikan keseluruhan tatanan dan norma dalam masyarakat yang terkadang memandang rendah pekerjaan yang ia geluti. Bagi Cak Jek, musik sudah menjadi darahnya. Darah yang mengalir di tubuhnya tanpa kenal henti.

Pertemuan Jaka Wani dan Sasana layaknya sebuah takdir. Mereka dipertemukan, disatukan oleh satu tujuan, kemudian dipisahkan oleh pasung-pasung kebebasan. Sasana yang harus menghadapi penjara ketidakwarasan dan Jaka Wani yang harus berjuang menjadi mesin di sebuah pabrik. Keduanya menyadari, apa yang mereka alami adalah suatu bentuk penahanan kebebasan yang mereka miliki. Kebebasan yang entah kapan dapat mereka raih. Nyatanya, apa yang ada di masayrakat, telah membatasi kehendak bebas mereka.

"Pikiranku ini sebenarnya bukan punyaku. Ini pikiran banyak orang yang kebetulan saja ada di dalam diriku." Banua, hlm. 137. 
"Jika kebebasan itu ada, aku tak akan pernah ketakutan lagi. Kebebasan baru ada jika ketakutan sudah tidak ada." Sasana, pg. 144 

Secuil Pendapat
Membaca Pasung Jiwa memang tidak semudah yang aku bayangkan. Sejak aku membaca Entrok, aku memang cukup penasaran dengan semua novel karangan Okky Madasari. Aku tertarik dengan cara Okky menyampaikan berbagai bentuk kritik sosial dalam bentuk cerita. Aku puas membaca Entrok karena di sanalah, Okky mengungkapkan pendapatnya akan sejarah hingga feminisme. Dalam Pasung Jiwa, aku seolah-olah diajak untuk menyelami mengenai makna kebebasan--and to some extent tentang kewarasan. Setelah aku membaca novel ini pun, aku semakin sadar, apa yang ada di dunia ini, apa itu baik, buruk, normal, tidak normal, waras, dan tidak waras hanyalah konstruksi sosial yang dibuat oleh masyarakat. Aturan dan tatanan yang ada, nyatanya semakin membatasi kehendak bebas yang kita miliki.

Resensi Pasung Jiwa oleh Pui P. Rahayu
Mungkin banyak yang merasa aneh saat membaca Pasung Jiwa. Aku akui memang tidak memudah membacanya. Akan tetapi, aku cukup senang membaca novel yang membuatku berpikir lagi akan kehidupan. Dari awal pun, aku sudah skeptis dengan adanya "kenormalan" dan kebalikannya. Bagiku, tetap saja masyarakat yang menentukan apa itu normal dan tidak.

Kesimpulan
Hidup sebagai manusia itu tidak mudah. Menjadi normal mungkin saja telah membuat diri kita menjadi tidak normal. Membuat jiwa kita terpasung sedemikian rupa. Untuk kalian yang ingin menelaah lebih lanjut akan kehidupan, Pasung Jiwa bisa menjadi pilihan untuk dibaca.

"Tak ada jiwa yang bermasalah. Yang bermasalah adalah hal-hal yang ada di luar jiwa itu. Yang bermasalah itu kebiasaan, aturan, orang-orang yang mau menjaga tatanan. Kalian semua harus dikeluarkan dari lingkungan mereka, hanya karena kalian berbeda."
Seluruh hidupku adalah perangkap.Tubuhku adalah perangkap pertamaku. Lalu orangtuaku, lalu semua orang yang kukenal. Kemudian segala hal yang kuketahui, segala sesuatu yang kulakukan. Semua adalah jebakan-jebakan yang tertata di sepanjang hidupku. Semuanya mengurungku, mengungkungku menjadi tembok-tembok tinggi yang menjadi perangkap sepanjang tiga puluh tahun usiaku. — Sasana, hlm. 293.
4 bintang untuk Sasana dan juga Jaka Wani.

Sincerely,

Puji P. Rahayu

Resensi: Alice's Adventure in Wonderland (Alice di Negeri Ajaib) - Lewis Carroll

Alice's Adventure in Wonderland
Itu sebabnya pelajaran itu disebut lesson karena setiap hari selalu less. - Gryphoon.

oleh Lewis Carroll

3 dari 5 bintang

Sumver gambar: Goodreads
Judul: Alice's Adventure in Wonderland
Seri: Alice's Adventure in Wonderland #1
Genre: Klasik, Children Book
Penulis: Lewis Carroll
Alih Bahasa: Djokolelono
Desain dan Ilustrasi Sampul: Ratu Lakshmita Indira
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal buku: 144 halaman
Tahun terbit: 2016
ISBN: 078-602-03-2479-1
Baca via iJakarta


Di arah sana,”si Kucing melambaikan cakar kanannya, “tinggal si Tukang Topi. Dan di sebelah sana,” ia melambaikan cakar satunya, “tinggal si Kelinci Maret. Terserah siapa yang akan kaukunjungi. Dua-duanya gila.

Alice bosan pada buku yang sedang dibacanya, sebab di buku itu tak ada gambar maupun percakapan. Maka, ketika seekor kelinci putih lewat tergesa-gesa sambil melihat jam sakunya, Alice mengikutinya, dan dimulailah petualangan Alice di Negeri Ajaib––negeri yang penuh makhluk aneh dan eksentrik. Alice bertemu sang Duchess dan kucingnya yang bisa bicara, Tukang Topi dan Kelinci Maret yang sibuk dengan jamuan teh mereka, si Kura-Kura Palsu yang menceritakan kisah hidupnya, dan banyak lagi lainnya.


Info lebih lanjut dapat dibaca di:
Goodreads

Bagiku, membaca buku anak menjadi salah satu hal yang berguna. Saat kamu merasa lelah membaca buku yang cukup advance, membaca buku anak bisa menjadi pilihan. Apalagi, dongeng klasik yang seharusnya memang sudah diketahui oleh semua orang. Alice's Adventure in Wonderland ini menjadi pilihan yang tepat buatku untuk mengatasi burn out.

Alice adalah gadis yang biasa-biasa saja. Bersekolah menjadi salahs satu rutinitas yang ia jalani. Suatu ketika, saat ia sedang bermain dengan kakaknya, Alice melihat seekor kelinci putih besar. Penasaran, Alice pun mengikuti si kelinci tersebut masuk ke dalam sebuah lubang. Tak disangka. lubang tersebut membawa Alice ke tempat yang sama sekali tak pernah ia sangka dan bayangkan. 

Setelah proses jatuh yang lumayan lama, akhirnya Alice sampai di sebuah ruangan yang baginya aneh. Terdapat banyak pintu besar di ruangan tersebut. Sayangnya, keseluruhan pintu tersebut terkunci. Kelinci putih tadi ternyata pergi melewati sebuah pintu kecil yang tidak mungkin dilewati oleh Alice. Setelah berusaha mencari jalan keluar, Alice akhirnya menemukan kunci untuk pintu kecil tersebut dan juga sebuah ramuan dalam botol. Alice dengan sedikit ragu-ragu, meminum ramuan tersebut, dan akhirnya tubuh Alice menyusut dan terus menyusut. Dari sinilah, petualangan Alice di Negeri Ajaib dimulai.

***

Membaca kisah Alice ini membuatku senyum-senyum sendiri. Aku jadi teringat masa-masa saat aku suka sekali menonton kartun di televisi. Buatku, membaca kisah Alice menjadi hiburan tersendiri. Setidaknya, tidak perlu terlalu berpikir saat membacanya. Toh, ini adalah ksiah klasik yang cukup mudah dipahami, regarding the translation itself a little bit... kaku? Tapi masih bisa dipahami, kok.

Sebenarnya, aku tidak sengaja menemukan buku ini di aplikasi iJakarta. Berhubung aku memiliki janji pada diri sendiri untuk setidaknya mulai mencicil 1001 Books, akhirnya aku memberanikan diri membaca buku ini--okay, I actually ever tried to read Anna Karenina and The Great Gatsby, but then my phone was gone and I got some reading slump to continue my reading. Apalagi, buku ini hitungannya tipis. Jadi, dapat dibilang kalau bisa dibaca dalam sekali duduk.

Satu hal yang paling kusukai dari buku ini adalah, sampul dan juga ilustrasi yang disematkan. Benar-benar khas buku anak. Sampul yang digunakan cukup eye-catching dan koleksi-able. Yaa, sampul-sampul sederhana seperti ini sih yang sebenernya bikin orang ingin mengoleksinya. Lalu, untuk ilustrasinya sendiri menurutku sudah cukup menggambarkan cerita yang ada.

Oke, mungkin terkesan terlambat aku baru membaca kisah Alice sekarang. Akan tetapi, if I am not mistaken, tidak akan pernah ada kata terlambat untuk membaca kisah klasik.

3 bintang untuk petualangan Alice yang unik.

Sincerely,

Puji P. Rahayu

Resensi: China Rich Girlfriend (Kekasih Kaya Raya) - Kevin Kwan


China Rich Girlfriend
Whatever you want to do, your status still matter in the end. Your status and you position in the society.

oleh  Kevin Kwan
(Kekasih Kaya Raya)
2.5 dari 5 bintang

Sumber gambar: Goodreads
Judul: China Rich Girlfriend (Kekasih Kaya Raya)
Seri: Crazy Rich Asians #2
Penulis: Kevin Kwan
Genre: Romance
Alih bahasa: Cindy Kristanto
Editor: Barokah Ruziati
Sampul: Martin Dima
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2017
Tebal buku: 456 halaman
ISBN: 9786020337593
Harga: Rp98.000,- di TB. Gramedia Basuki Rahmat, Malang


Sekarang malam pernikahan Rachel Chu. Ia memakai cincin bermata berlian Asscher-cut, gaun pengantin yang sangat ia sukai, dan memiliki tunangan yang rela kehilangan semua harta warisan demi menikahinya. Namun, gadis itu sedih. Ayah kandungnya, yang tidak pernah ia kenal, takkan mengantarnya menuju altar. Lalu suatu kejadian mendadak membuat identitas pria tersebut terungkap. Dan Rachel pun terseret ke dalam dunia gemerlap Shanghai, yang berisi kemewahan tak terbayangkan dan orang-orang yang bukan sekadar kaya raya--mereka kaya tujuh turunan. 
"Sangat menghibur." -The Washington Post

Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Kegilaan kalangan jetset, nyatanya dapat ditemukan di mana saja. Jika Crazy Rich Asians mengajak kita untuk menyelami kehidupan kalangan jetset di Singapura, maka di buku kedua ini, kita akan diajak untuk mengenal lebih jauh kalangan jetset di Cina Daratan. Pergi menggunakan jet pribadi, berbelanja berbagai koleksi hot couture, hingga makan di restoran mahal. Kehidupan Rachel yang tadinya biasa saja, langsung berubah seratus delapan puluh derajat setelah mengetahui kehidupan keluarga ayah kandungnya.

Sejak mengetahui bahwa ayah kandungnya masih hidup, Rachel dan Nick berusaha untuk terus mencari informasi mengenai ayah Rachel yang kabarnya berada di Cina daratan. Hal itu dilakukan sebelum keduanya melangsungkan upcarai pernikahan. Pernikahan Rachel dan Nick sendiri diadakan secara tertutup. Nick pun sengaja tidak memberi tahu ibunya. Tentunya, Nick menyadari kalau ibunya masih belum dapat menerima pernikahannya dengan Rachel. Akan tetapi, sehari sebelum pernikahan, Eleanor berhasil mencapai tempat pernikahan Nick dan Rachel. Hal yang tak disangka-sangka, nyatanya Eleanor berhasil menemukan ayah Rachel.

The Opinion

Entah mengapa, aku merasa membutuhkan waktu yang lama saat membaca buku ini. Faktor tampilan fisiknya yang agak menyiksa--euh, ukurannya lebih dari B5, tebal bukunya yang hampir 500 halaman, hingga font yang digunakan sungguh kecil-kecil--membuatku cukup malas membacanya. Aku masih ingat, mulai membaca novel ini sejak sebelum lebara. Cause someone told me to read instead of play some virtual game. Lol. I tried to read, tho. But it's a little bit hard for mo to finish it. 

Selain memang tampilan fisiknya yang cukup membuat pusing, nyatanya gaya bercerita Kevin Kwan cukup tidak biasa. Mengapa aku bilang demikian? Meskipun di blurb disebutkan kisah mengenai Nick dan Rachel, nyatanya, Kwan mencoba untuk mencampurkan beberapa kisah dalam satu buku. Masih ada cerita tentang Astrid, sepupu Nick yang paling cantik dan keren, bersama suaminya, Michael, pengusaha di bidang teknologi yang mulai berhasil; cerita tentang Carlton Bao, adik Rachel, dengan salah satu fashion blogger terkenal di Cina, Collete; hingga cerita mengenai Kitty Pong--yang di buku pertama, eugh, menyebalkan.

Pada intinya, Kwan tidak hanya fokus pada kisah pernikahan antara Nick dan Rachel. Saat membaca buku ini, mungkin pembaca harus bersiap-siap untuk menemukan banyak sekali tokoh, jalan cerita yang terasa tidak ada hubungannya, dan hal-hal lainnya yang cukup tidak masuk di akal. I don't know. Maybe this is me who can't enjoyed it. In my opinion, If you want to stop in this second book, maybe you could. Because I couldn't sense some surprise element from this book. Ehm, something that will trigger me to read the third one. But, who knows, right? 

The Conclusion

In my humble opinion, this book is quite good. But not that much my cup of tea. I want to enjoy it, but then, many things that I couldn't bear with it. I red this book because I want to know who is Rachel's father and how Nick and Rachel could married in the end. 

Sebenarnya, masalah selera aja, sih. Jadi, ku hanya bisa menyematkan 2.5 bintang untuk buku bersampul kuning ini.

Sincerely,

Puji P. Rahayu

Resensi dan Giveaway: Dear, Me - Ariestanabirah


Dear, Me
Perjuangkan mimpimu selagi bisa

oleh  Ariestanabirah


3 dari 5 bintang

Sumber gambar: goodreads
Judul: Dear, Me
Penulis: Ariestanabirah
Genre: Young Adult
Penerbit: PING (Laksana Gorup)
Penyunting: Diara Oso
Penyelaras Akhir: RN
Tata Sampul: Amalina
Tata Isi: Violetta
Pracetak: Endang
Tahun terbit: 2017
Tebal buku: 208 halaman
ISBN: 978-602-407-154-7
Buntelan dari penulis

Hidup menjomblo di usia yang semestinya sudah punya gandengan (minimal banget), dipecat dari perusahaan setelah 9 tahun mengabdi, ditambah krisis keuangan dan percaya diri. 
Zia berada di titik kritis dalam hidupnya. 
Di saat terpuruk, Zia teringat pada impiannya semasa SMA juga... cinta pertamanya. Apa kabarnya dia?
Ia menulis surat, lalu mengirimkan surat itu untuk dirinya di lima belas tahun lalu. Sebuah perbuatan iseng nan konyol. 
Tapi, siapa tahu kejaiban apa yang menantinya?

***

Dalam hidup, seseorang tidak akan pernah lepas dari penyesalan. Kita pasti, di saat tertentu, berharap bahwa kita tidak melakukan satu kesalahan di masa lalu, agar kemudian kita tidak menyesal di masa sekarang. Aku pun demikian. Aku pernah berpikir, "Why I did that? Why? I shouldn't did that thing." Aku pernah mengalami masa-masa seperti itu. Masa saat aku menyesali masa lalu. Masa saat aku menginginkan kesempatan untuk kembali ke masa lalu untuk memperbaikinya apa yang telah kulakukan. Sayangnya, hal tersebut menjadi tidak mungkin. Tidak akan pernah mungkin kan kita kembali ke masa lalu?

The Story

Bagi Zia Abila, kehidupannya sekarang benar-benar berantakan. Belum memiliki pasangan di usia yang matang, pekerjaan yang ia jalani tidak sesuai dengan passio-nya sebagai komikus--dan pada akhirnya dipecat, hingga tidak memiliki sahabat yang bisa menerima keluh-kesahnya. Zia menyesal banyak hal yang tidak ia lakukan dengan benar di masa lalu. Maka dari itu, Zia mencoba untuk mengirimkan surat untuk dirinya di masa lalu. Ia mencoba memperingatkan dirinya di masa lalu akan kesalahan-kesalahan yang ia lakukan.

Mungkin bagi kalian terdengar tidak mungkin hal tersebut terjadi. Akan tetapi, bagaimana kalau surat Zia di masa sekarang, benar-benar bisa dikirim untuk Zia di masa lalu? Akankah kehidupan Zia menjadi lebih baik?

Mengambil latar waktu tahun 2000-an, Kak Bilah mencoba untuk mengajak kita menyelami kehidupan masa SMA Zia. Masa-masa saat kita harus memilih kita mau menjadi apa. Masa-masa penentuan kalau buatku. Kita mau memilih jurusn kuliah apa, apakah kita mau mengikuti apa kata orang tua, atau kita ingin memperjuangkan passion kita sendiri? Menurutku, masa SMA adalah masa-masa kritis bagi remaja untuk menentukan jati diri mereka--eugh, lebih parah waktu kuliah, sih. But I know the feeling. 

Sepintas, kita akan benar-benar diajak untuk mendalami lagi mimpi serta passion kita. Intinya sih, membuka mata kita, bahwa pekerjaan-pekerjaan yang bersentuhan dengan seni, belum tentu tidak ada harganya. Kalian pasti pernah mendengar kan, sentimen bahwa menjadi pekerja seni tidak ada harganya? Aku sendiri pun sering mendengarnya. Maka dari itu, dalam Dear, Me, Kak Bilah mencoba memberikan pandangan baru mengenai pekerjaan yang berhubungan seni, yakni komikus. Yap, si tokoh utama, Zia, bermimpi menjadi komikus. Sayangnya, kedua orang tuanya tidak menyetujui rencana Zia. Dengan adanya surat dari masa depan, Zia pun akhirnya mencoba memperjuangkan mimpinya. Meskipun ia tidak tahu apakah orang tuanya benar-benar dapat mengabulkan permintaannya atau tidak.

Selain tentang mimpi, tentunya cerita tentang Zia tidak akan lengkap, tanpa adanya cerita mengenai persahabatan dan juga cinta. Surat dari masa depan menyebutkan bahwa sahabat terbaik Zia, Nana, akan meninggal karena Zia tidak memperhatikan sahabatnya tersebut. Apakah Zia berhasil menyelematkan Nana dari entah apa yang menimpanya? Selain itu, diam-diam, Zia juga berusaha mendapatkan hati dari pangeran pujaannya, Addis. Cowok yang terkenal penyendiri, bahkan dianggap aneh ini, nyatanya bisa menarik hati Zia. Akan tetapi, apakah mungkin Zia dapat mengungkapkan perasaannya kepada Addis supaya ia tidak menyesal di masa depan?

The Opinion
Membaca Dear, Me ini bisa dilakukan saat kamu ingin bernostalgia dengan zaman SMA. Kisah kehidupan SMA begitu melekat dalam novel ini. Mulai dari printilan upacara, kerja kelompok, hingga lomba bulan bahasa. Intinya sih, memang mengisahkan masa-masa SMA banget. Sejak pertama kali membaca tulisan Kak Bilah--sejak baca draft awal Yesterday in Bandung, aku suka dengan cara Kak Bilah bercerita. 

Eits, aku belum cerita ya. Jadi begini. Puji dan Kak Bilah pernah bekerja sama dalam satu novel keroyokan berjudul Yesterday in Bandung--eaa, shameless promotion. Di sinilah, aku pertama kali kenal Kak Bilah dan tahu gaya menulisnya. Aku suka karena gaya bercerita Kak Bilah itu menurut aku ringan. Mudah dimengerti. Mungkin terkesan formal, but I don't mind. Aku tetep suka.

Membaca Dear, Me membuatku refleksi kembali. Apakah benar jalanku yang kutempuh sekarang? Apakah nanti masa depanku akan baik-baik saja? Menggunakan sudut pandang orang pertama, membuatku bisa menyelami karakter Zia. Bagaimana Zia menyikapi hidup pada akhirnya. Kemudian, aku suka banget sama sampulnya. Cantik. Menarik pula untuk dipandang. 

Cerita yang disajikan menurut aku cukup menarik. Event though, in some part, I couldn't relate with some points--regarding my own sentiment, I still could enjoy the story. Intinya sih, kamu nggak akan menyesal kok untuk membaca novel ini. Menyenangkan dan ringan. Memberikan gambaran mengenai usaha meraih mimpi dan juga passion.

Disunting oleh Puji
The Conclusion
Untuk kalian yang menyukai cerita sarat akan refleksi diri, kalian bisa membaca Dear, Me. Bagiku, membaca novel-novel seperti Dear, Me ini dapat menyentil kesadaran kita. Tentang segala hal yang terjadi di sekitar kita.

3 bintang untuk mimpi Zia menjadi komikus.

UPDATE

Halo, teman-teman! 
Terima kasih sudah berpartisipasi dalam giveway novel Dear, Me. Setelah menimbang dan juga menganalisis, akhirnya, pemenang giveway ini pun terpilih. Siapa dia? Selamat kepada...

Monica Indah
@MonicaIndah5

Yeay! Nanti akan kuhubungi lewat DM, ya. Selamat sekali lagi. Untuk yang lain, semoga beruntung di lain kesempatan. 

Sincerely,
Puji P. Rahayu